KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM
(Diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Kepemimpinan)
Dosen Pengampu:Akhmad Sa’id, M.Pd.I.
Oleh: Syafi’i
NIM: 2015.77.20.011
Progam Studi: Manajemen Pendidikan
Islam
STAI “MA’HAD
ALY AL-HIKAM”
MALANG
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Manusia
adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri.Dalam hidup, manusia
selalu berinteraksi dengan sesama serta dengan lingkungan.Manusia hidup
berkelompok baik dalam kelompok besar maupun dalam kelompok kecil.Hidup dalam
kelompok tentulah tidak mudah.Untuk menciptakan kondisi kehidupan yang harmonis
anggota kelompok haruslah saling menghormati dan menghargai.Keteraturan hidup
perlu selalu dijaga.Hidup yang teratur adalah impian setiap insan.Menciptakan dan
menjaga kehidupan yang harmonis adalah tugas manusia.
Manusia
adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi dibanding makhluk Tuhan lainnya.Manusia
dianugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk memilah dan memilih mana
yang baik dan mana yang buruk.Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya mampu
mengelola lingkungan dengan baik.Allah SWT menjadikan manusia sebagai khalifah
di muka bumi hanya untuk menyembah dan beribadah kepadaNya.Mengerjakan segala
perintahNya, mulai dari shalat, puasa, zakat, dan segala hal yang mendatangkan
kemaslahatan bagi diri manusia itu sendiri dan menjauhi laranganNya agar dapat
mencegah kerusakan di muka bumi.
Tidak
hanya lingkungan yang perlu dikelola dengan baik, kehidupan sosial manusiapun
perlu dikelola dengan baik.Untuk itulah dibutuhkan sumber daya manusia yang
berkualitas.Sumber daya yang berjiwa pemimpin, paling tidak untuk memimpin
dirinya sendiri.
Dengan
berjiwa pemimpin, manusia akan dapat mengelola diri, kelompok dan lingkungan
dengan baik. Khususnya dalam penanggulangan masalah yang relative pelik dan
sulit.Di sinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan
agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.
B.
Rumusan
Masalah.
1.
Apakah
pengertian kepemimpinan menurut Islam?
2.
Apa dasar dan landasan kepemimpinan islam ?
3.
Apa
kriteria pemimpin menurut islam?
C.
Tujuan
1.
Dapat
memahami pengertian kepemimpinan menurut islam.
2.
Dapat
memahami dasar dan landasan kepemimipinan islam.
3.
Dapat
memahami kriteria-kriteria kepemimipinan islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Kepemimpinan menurut Islam.
Banyak para
ahli yang mengemukakan pendapatnya berkaitan dengan definisi kepemimpinan,
salah satunya menurut George R. Terry yang berpendapat bahwa :“Kepemimpinan
adalah kegiatan-kegiatan untuk mempengaruhi orang orang agar mau bekerja sama
untuk mencapai tujuan kelompok secara sukarela.[1]”
Dari
defenisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam kepemimpinan ada
keterkaitan antara pemimpin dengan berbagai kegiatan yang dihasilkan oleh
pemimpin tersebut.Pemimpin adalah seseorang yang dapat mempersatukan
orang-orang dan dapat mengarahkannya sedemikian rupa untuk mencapai tujuan
tertentu. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan oleh seorang pemimpin, maka ia
harus mempunyai kemampuan untuk mengatur lingkungan kepemimpinannya.
Jika dilihat dari segi ajaran Islam,
kepemimpinan berarti kegiatan menuntun, membimbing, memandu dan
menunjukkan jalan yang diridhai Allah SWT. Kegiatan ini bermaksud untuk
menumbuhkembangkan kemampuannya sendiri di lingkungan orang-orang yang
dipimpin dalam usahanya mencapai ridha Allah SWT selama kehidupannya di dunia
dan di akhirat. Dalam hal ini Allah berfirman:
….ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي
هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهۡتَدِيَ لَوۡلَآ أَنۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُۖ…
٤٣
Artinya:
"….Segala puji bagi Allah yang telah memimpin kami kepada (surga) ini. Dan
kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami
petunjuk….
Firman Allah diatas jelas bahwa untuk mencapai jalan yang
diridhai Allah SWT diperlukan para pemimpin yang akan menjalankan kepemimpinan
berdasarkan petunjuk-petunjuk-Nya.
Berbicara tentang kepemimpinan
dalam pandangan agama Islam, maka kita akan merujuk terhadap pribadi dan pola
kepemimpinan yang ditampilkan oleh Nabi Muhammad SAW. yang lebih dikenal dengan
istilah uswatun khasanah yang artinya teladan yang mulia atau baik. Keteladanan
nabi muhammad SAW. ini telah dijamin oleh Allah SWT. dengan firman Nya dalam Al
Qur’an yang berbunyi :Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu
suri taulada yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah
dan (kedatangan) hari qiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab, 21)
Keteladanan Nabi Muhammad SAW. sangat tepat jika dicontoh oleh manusia pada umumnya dan para pemimpin pada khsusnya. Pengaruh kepemimpinan beliau masih tetap kuat, dan bagi umat Islam beliau merupakan figure keteladanan yang paling utama dalam berbagai segi kehidupan.
Keteladanan Nabi Muhammad SAW. sangat tepat jika dicontoh oleh manusia pada umumnya dan para pemimpin pada khsusnya. Pengaruh kepemimpinan beliau masih tetap kuat, dan bagi umat Islam beliau merupakan figure keteladanan yang paling utama dalam berbagai segi kehidupan.
Beliau dengan sangat teliti dan
hati-hati mencontohkan semua perbuatan baik dan menjauhkan diri dari melakukan
perbuatan buruk dengan sangat teliti dan jelas.Sesungguhnya banyak hal yang
bisa dijabarkan dari sifat Rasulullah SAW namun semoga 4 sifat teladan ini
sungguh menjelaskan betapa sifat kepempimpinan beliau mengakar kepada kita walau
beliau telah wafat beberapa abad yang lalu, sifat kepemimpinan beliau disegani
kawan dan dihormati lawan sekalipun.
Menurut
pemakalah, kepemimpinan menurut Islam adalah kegiatan mengatur, menuntun, menunjukkan jalan yang di ridhoi oleh Allah
SWT untuk mencapai kebahagia’an didunia dan akhirat.kepemimpinan haruslah
berlandaskan pada hukum Allah SWT.
Dalam sejarah kepeminnan Islam banyak istilah yang dipakai
untuk menyebut seorang pemimpin.Istilah yang dipakai itu sebenarnya
mencerminkan tugas yang seharusnya dijalankan oleh seorang pemimpin. Istilah
itu diantaranya :
- KHALIFAH[2], secara etimologis berarti pengganti atau pelanjut, dan yang dimaksud adalah pengganti dan pelanjut tugas-tugas Rasulullah SAW. Dalam melestarikan nilai nilai agama dan dalam mengatur kehidupan dunia. Maka dengan demikian tugas kepemimpinan dalam Islam adalah melanjutkan tugas tugas risalah yang diemban Rasulullah.
- IMAM[3], secara etimologis imam artinya yang diikuti dan dita`ati serta diteladani.Dalam salah satu Hadist Rasulullah bersabda :
انما جعل الامام ليؤتم به
Artinya:
Sesungguhnya seseorang dijadikan imam itu untuk diikuti. Ini
mengisyaratkan bahwa tugas seorang peminpin itu untuk
diikuti dan ditaati.
- AMIER[4], secara bahasa amier artinya adalah yang diperintah atau disuruh.Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Umar bin Khaththab RA. Ini menggambarkan bahwa seorang pemimpin itu adalah orang yang siap diperintah dan disuruh oleh umat, demi kepentingan mereka. Oleh karena itu tugas seorang pemimpin dalam Islam adalah melayani ummat bukan yang dilayani oleh ummat. Rasulullah mengatakan :
سيد القوم خادمهم
Artinya:
Pemimpin suatu kaum itu adalah pelayan mereka.
- RA`IN[5], arti bahasanya adalah pengembala, tugas seorang pengembala adalah menjaga, merawat dan memberi perhatian yang penuh kepada yang digembalanya, dan itulah tugas seorang pemimpin terhadap siapa yang dipimpinnya.
- QAA `ID, arti bahasanya adalah penuntun,pembimbing, yang artinya seorang pemimpin itu punya tugas sebagai penuntun ummat dan pembimbing mereka ke jalan yang benar yang diridhai oleh Allah., bukan menjauhkan ummat dari jalan Allah.
- SULTHAN[6], Kata sulthan berasal dari akar kata s-l-th. Al-Fayyumi (t.th:285), ahli leksikografi Arab abad ke-8, telah menyatakan bahwa kata sulthan bermakan ‘orang yang berkuasa’. Selain itu, kata ini juga dipergunakan untuk mengacu pada orang, di samping dipergunakan sebagai abstract noun yang berarti ‘kekuasaan’ atau ‘pemerintahan’. Sementara itu, kata ini dalam bahasa Indonesia hanya dimaknai dengan ‘raja’ atau ‘baginda’ (KBBI, 2001: 1100).
·
MALIK[7], Kata
malik
berasal dari akar kata m-l-k, yang menurut Ibn Zakariya
(1994: 996) menunjukkan kekuatan dan vitalitas dalam satu hal. Seseorang
disebut malik bila
ia bisa mengendalikan kekuasaan dan pengaruhnya terhadap orang banyak
(Al-Fayyumi t.th.: 579).
Menurut Al-Ashfahani (1961: 472), kata malik bermakna
‘orang yang memegang otoritas memerintah dan melarang orang banyak’. Kata ini
hanya berlaku untuk kepemimpinan terhadap manusia. Dalam bahasa Arab, hanya ada
frasa malik
an-nas ‘raja manusia’ dan tidak ada frasa malik
al-asyya’ ‘raja sesuatu’. Sementara itu, kata ini dalam bahasa
Indonesia diberikan arti ‘yang mempunyai’, ‘tuan’, dan ‘raja’ (KBBI, 2001: 706.
B.
Dasar dan Landasan Kepemimpinan Islam
1. Dasar Kepemimpinan Islam[8]
a) Dasar Tauhid
Dasar
tauhid atau dasar menegakkan kalimat tauhid serta memudahkan penyebaran islam
kepada seluruh umat manusia. Dalam al–Qur’an dasar ini dijelaskan dalam
berbagai surat dan ayat, diantaranya QS. Al-Ikhlas ayat 1- 4:
قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ١ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ٢
لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ ٣ وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ[9]
٤
Artinya:
1. Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa. 2. Allah adalah Tuhan yang
bergantung kepada-Nya segala sesuatu. 3. Dia tiada beranak dan tidak pula
diperanakkan. 4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia"
- QS. al-Baqarah ayat 163
وَإِلَٰهُكُمۡ
إِلَٰهٞوَٰحِدٞۖلَّآإِلَٰهَإِلَّاهُوَٱلرَّحۡمَٰنُٱلرَّحِيمُ٦٣
Artinya:
Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang[10].
b) Dasar Persamaan Derajat Sesama Umat
Manusia.
Pada
prinsip ini bahwa manusia memiliki derajat yang sama dimata Allah, hanya saja
yang membedakan adalah ketaqwaan kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dalam ajaran
QS. Al-Hujurat: 13 :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖوَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗاوَقَبَآئِلَلِتَعَارَفُوٓاْۚإِنَّ
أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ[11] ١٣
Artinya:
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya
kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu
disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Islam
tidak pernah mengistimewakan ataupun mendiskriminasikan individu atau golongan.
Semua sama dan tidak ada yang berbeda. Islam juga melindungi hak-hak
kemanusiaan siapapun dia, muslim atau non muslim, selama mau hidup bersama dan
taat terhadap pemimpin dan menjaga kesatuan dan persatuan.
c) Dasar Persatuan Islamiyyah
(Ukhuwah Islamiyah)
Prinsip
ini untuk menggalang dan mengukuhkan semangat persatuan dan kesatuan umat
Islam. Hal ini didasarkan pada ajaran Islam dalam al-Qur’an Surat Ali Imran
ayat 103:
وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗاوَلَاتَفَرَّقُواْۚ
Artinya:
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu
bercerai berai[12].
d) Dasar Musyawarah Untuk Mufakat atau
Kedaulatan Rakyat
Islam
selalu menganjurkan ada kesepakatan dari orang-orang terkait dalam memutuskan
suatu perkara yang berhungan dengan kemanusiaan baik dalam kehidupan keluarga,
lebih-lebih kehidupan berkelompok untuk menciptakan lingkungan yang damai dan
tentram dalam suatu masyarakat tersebut.
Dalam
QS. Ali Imran ayat 159 Allah menegaskan tentang pentingnya bermusyawarah dalam
memutuskan suatu perkara:
وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ
عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ ١٥٩
Artinya:
dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu
telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya[13]
Dengan
pengertian demikian maka umat Islam menjadikan musyawarah sebagai dasar pijakan
dalam mengambil keputusan dan menetapkan kaidah-kaidahnya. Dengan musyawarah
juga umat islam dapat memilih dan mencalonkan kandidat yang memiliki sikap
keadilan dan dianggap memiliki kompetensi dalam kepemimpinan untuk mengurus
kepentingan mereka.
e) Dasar Keadilan dan Kesejahteraan
Bagi Seluruh Umat.
Atas
dasar prinsip ini pemimpin harus menegakkan persamaan hak segenap warganya;
maksudnya seorang pemimpin memiliki kewajiban menjaga hak-hak rakyat dan harus
dapat merealisasikan keadilan diantara mereka secar keseluruhan tanpa
terkecuali.
Prinsip ini didasari firman Allah
swt. Pada Surat an-Nahl ayat 90:
۞إِنَّ ٱللَّهَ
يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ
عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ
تَذَكَّرُونَ ٩٠
Artinya:
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi
kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan
permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran[14].
Kelima
prinsip atau dasar tersebut harus senantiasa dijadikan landasan dalam
menetapkan setiap kebijakan pemimpin sehingga tujuan kepemimpinan dalam Islam
akan dapat terwujud dengan sebaik-baiknya.
2.
Landasan Kepemimpinan Islam[15]
a) Surat Al-Baqarah ayat 30
وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞفِيٱلۡأَرۡضِخَلِيفَة
Artinya:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi"[16].
b)
Surat An- Nisa’ ayat 59
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ
ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّه وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ
ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞوَأَحۡسَنُتَأۡوِيلًا٥٩
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil
amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,
maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu
benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih
utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya[17].
c)
Surat an-Nur ayat 55
وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ
ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ
مِن قَبۡلِهِمۡ
Artinya:
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan
mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan
mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum
mereka berkuasa[18],
d) Surat Shad ayat 26
يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةٗفِيٱلۡأَرۡضِ
Artinya:
Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi[19].
5.
Surat An-Nahl ayat 89
وَيَوۡمَ نَبۡعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٖشَهِيدًاعَلَيۡهِممِّنۡ أَنفُسِهِمۡۖ
وَجِئۡنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِۚ وَنَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ
تِبۡيَٰنٗالِّكُلّشَيۡءٖوَهُدٗىوَرَحۡمَةٗ وَبُشۡرَىٰ لِلۡمُسۡلِمِينَ ٨٩
Artinya;
(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang
saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad)
menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab
(Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar
gembira bagi orang-orang yang berserah diri[20].
e) Hadits Nabi saw. riwayat Imam
Bukhari :لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا
الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوف
Artinya:
Tidak boleh taat terhadap kemaksiatan, sesungguhnya ketaatan itu hanya kepada
kebajikan.
C.
Kriteria
kepemimpinan Islam
Para ulama telah lama menelusuri
Al-Quran dan Hadits dan menyimpulkan minimal ada empat kriteria yang harus
dimiliki oleh seseorang sebagai syarat untuk menjadi pemimpin. Semuanya
terkumpul di dalam empat sifat yang dimiliki oleh para nabi/rasul sebagai
pemimpin umatnya.yaitu[21]:
1.
Shidq, yaitu jujur, kebenaran dan
kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak di dalam melaksanakan
tugasnya. Lawannya adalah bohong.
2.
Amanah, yaitu kepercayaan yang menjadikan
dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan kepadanya, baik
dari orang-orang yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah SWT. Lawannya
adalah khianat.
3.
Fathonah, yaitu kecerdasan, cakap, dan
handal yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang
muncul. Lawannya adalah bodoh.
4.
Tabligh, yaitu penyampaian secara jujur dan
bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan
transparansi). Misalnya harus mampu mengkomunikasikan dengan baik kepada rakyat
visi, misi dan program-programnya serta segala macam peraturan yang ada secara
jujur dan transparan. Lawannya adalah menutup-nutupi (kekurangan) dan
melindungi (kesalahan).
Selain
ke empat sifat diatas, perlu diketahui pula syarat pemimpin dalam Islam lainnya
seperti yang dijabarkan berikut ini:
1.
Beragama Islam, Beriman dan Beramal Shaleh, Pemimpin beragama Islam (QS.
Al-Maaidah 5: 51), dan sudah barang tentu pemimpin orang yang beriman,
bertaqwa, selalu menjalankan perintah Allah dan rasulnya. Karena ini merupakan
jalan kebenaran yang membawa kepada kehidupan yang damai, tentram, dan bahagia
dunia maupun akherat. Disamping itu juga harus yang mengamalkan keimanannya itu
yaitu dalam bentuk amal soleh.
2.
Niat yang Lurus, Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada
niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya…
(HR Bukhari&Muslim). Karena itu hendaklah menjadi seorang pemimpin
hanya karena mencari keridhoan Allah.
3.
Laki-Laki, Dalam Al-qur’an surat An nisaa’ (4) :34 telah diterangkan
bahwa laki laki adalah pemimpin dari kaum wanita.“Kaum laki-laki itu
adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian
mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan)…”. Selain itu
rasullulah SAW pun bersabda: “Tidak akan beruntung suatu kaum yang
menyerahkan urusan (kepemimpinan) mereka kepada seorang wanita.” (HR
Al-Bukhari).
4.
Tidak Meminta Jabatan, Rasullullah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah
Radhiyallahu’anhu, ”Wahai Abdul Rahman bin samurah! Janganlah kamu
meminta untuk menjadi pemimpin. Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepada
kamu karena permintaan, maka kamu akan memikul tanggung jawab sendirian, dan
jika kepemimpinan itu diberikan kepada kamu bukan karena permintaan, maka kamu
akan dibantu untuk menanggungnya.” (HR Bukhari&Muslim).
5.
Berpegang pada Hukum Allah, Allah berfirman, ”Dan hendaklah kamu memutuskan
perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu mereka.” (Al-Maaidah:49).
6.
Memutuskan Perkara Dengan Adil, Rasulullah bersabda, ”Tidaklah
seorang pemimpin mempunyai perkara kecuali ia akan datang dengannya pada hari
kiamat dengan kondisi terikat, entah ia akan diselamatkan oleh keadilan, atau
akan dijerusmuskan oleh kezhalimannya.” (HR Baihaqi dari Abu Hurairah
dalam kitab Al-Kabir).
7.
Tidak Menerima Hadiah, Seorang rakyat yang memberikan hadiah kepada seorang
pemimpin pasti mempunyai maksud tersembunyi, entah ingin mendekati atau
mengambil hati. Oleh karena itu, hendaklah seorang pemimpin menolak pemberian
hadiah dari rakyatnya. Rasulullah bersabda, “Pemberian hadiah kepada
pemimpin adalah pengkhianatan.” (HR Thabrani).
8.
Kuat dan Sehat,…sesungguhnya orang yang paling baik yang
kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya
(Al Qashas 28: 26).
9.
BerLemah Lembut, Doa Rasullullah: “Ya Allah, barangsiapa mengurus satu
perkara umatku lalu ia mempersulitnya, maka persulitlah ia, dan barang siapa
yang mengurus satu perkara umatku lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka
berlemah lembutlah kepadanya”
10.
Tegas dan bukan Peragu, Rasulullah bersabda, “Jika seorang pemimpin
menyebarkan keraguan dalam masyarakat, ia akan merusak mereka.” (Riwayat
Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Al-hakim).
Dengan
mengetahui hakikat kepemimpinan di dalam Islam serta kriteria dan sifat-sifat
apa saja yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, maka kita wajib untuk
memilih pemimpin sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan Hadits. Pertanggung
jawaban atas pengangkatan seseorang pemimpin akan dikembalikan kepada siapa
yang mengangkatnya (masyarakat tersebut). Dengan kata lain masyarakat harus
selektif dalam memilih pemimpin dan hasil pilihan mereka adalah “cermin” siapa
mereka. Hal ini sesuai dengan pepatah yang berbunyi: “Sebagaimana keadaan
kalian, demikian terangkat pemimpin kalian”.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu
‘anhu pernah ditanya oleh seseorang: “Mengapa saat Abu Bakar dan Umar
menjabat sebagai khalifah kondisinya tertib, namun saat Utsman dan engkau yang
menjadi khalifah kondisinya kacau? Jawab Ali: “Karena saat Abu
Bakar dan Umar menjadi khalifah, mereka didukung oleh orang-orang seperti aku
dan Utsman, namun saat Utsman dan aku yang menjadi khalifah, pendukungnya
adalah kamu dan orang-orang sepertimu” (Syadzaraat Adz Dzhahab 1/51).
“Apabila Allah menghendaki kebaikan
bagi suatu kaum maka dijadikan pemimpin-pemimpin mereka orang-orang yang
bijaksana dan dijadikan ulama-ulama mereka menangani hukum dan peradilan.Juga
Allah jadikan harta-benda ditangan orang-orang yang dermawan.Namun, jika Allah
menghendaki keburukan bagi suatu kaum maka Dia menjadikan pemimpin-pemimpin
mereka orang-orang yang berakhlak rendah.DijadikanNya orang-orang dungu yang
menangani hukum dan peradilan, dan harta berada di tangan orang-orang kikir.”(HR. Ad-Dailami)
Demikianlah Al-Quran dan Hadits
menekankan bagaimana seharusnya kita memilih dan menjadi pemimpin. Sebab
memilih pemimpin dengan baik dan benar adalah sama pentingnya dengan menjadi
pemimpin yang baik dan benar.
Menurut pemakalah, gaya kepemimpinan
dalam islam cocok/sesuai dengan a). gaya kepemimpinan kharismatik. b).
demokratis.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Al-Quran dan Hadits sebagai pedoman
hidup umat Islam sudah mengatur sejak awal bagaimana seharusnya kita memilih
dan menjadi seorang pemimpin.Ada dua hal yang harus dipahami tentang hakikat
kepemimpinan. Pertama, kepemimpinan dalam pandangan Al-Quran bukan sekedar
kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi merupakan
ikatan perjanjian antara dia dengan Allah SWT.Kepemimpinan adalah amanah,
titipan Allah SWT.Kedua, kepemimpinan menuntut keadilan.Keadilan adalah lawan
dari penganiayaan, penindasan dan pilih kasih.Keadilan harus dirasakan oleh
semua pihak dan golongan.
Adapun
dasar kepemimpinan islam yaitu: 1).Dasar Tauhid. 2). Dasar Persamaan Derajat
Sesama Umat Manusia. 3). Dasar Persatuan Islamiyyah (Ukhuwah Islamiyah).
4). Dasar Musyawarah Untuk Mufakat atau Kedaulatan Rakyat. 5). Dasar Keadilan
dan Kesejahteraan Bagi Seluruh Umat. Sedangkan Landasan kepemimpinan islam ada
beberapa landasan, salah satunya adalah Surat Al-Baqarah ayat 30, Surat An-
Nisa’ ayat 59, dan lain sebagainya seperti yang telah dipaparkan pemakalah
tadi.
Kriteria-kriteria
pemimpin menurut islam ada beberapa kriteria, namun minimal seorang pemimpin
itu harus mempunyai sekurang-kurangnya 4 syarat, yaitu: 1). Shidiq. 2). Amanah.
3). Fathonah. 4). Tabligh.
REFERENSI
Al-Qur’an.
Al-Hadits.
Agus Saputera. PETUNJUK
AL-QURAN DALAM MEMILIH PEMIMPIN. http://riau1.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=472. Diakses 1 desember 2016.
http://www.ldii-sidoarjo.org. Memilih Pemimpin Menurut Islam.Diakses
1 desember 2016.
https://www.datdut.com/5-kata-bermakna-kepala-negara-dalam-islam/
di akses tgl 10 jan 2017
https://yogapermanawijaya.wordpress.com/2014/05/21/kriteria-pemimpin-dalam-pandangan-islam/ di
akses tgl 09 jan 2017.
http://www.kammiuinsuka.org/2015/03/kepemimpinan-dalam-islam-pengertian.html di
akses tgl 09 jan 2017.
Nawawi, Hadari.
Kepemimipinan Menurut Islam. Yogyakarta: GAMA University Press, 1993.
[1] http://www.kammiuinsuka.org/2015/03/kepemimpinan-dalam-islam-pengertian.html diakses pd tgl
09-jan-2017
[2] QS al-baqarah
:30
[3] Definisi at
taftanzani yang dikutip rasyid ridha al-khilafat wal imamah al-‘udzma hal 10.
[5] HR Bukhari dan
di QS Al hadid :57
[7]
https://www.datdut.com/5-kata-bermakna-kepala-negara-dalam-islam/ di akses tgl
10 jan 2017
[8] http://www.kammiuinsuka.org/2015/03/kepemimpinan-dalam-islam-pengertian.html di akses tgl
09 januari 2017
[15] http://www.kammiuinsuka.org/2015/03/kepemimpinan-dalam-islam-pengertian.html di akses tgl
09 jan 2017
[21] https://yogapermanawijaya.wordpress.com/2014/05/21/kriteria-pemimpin-dalam-pandangan-islam/ di akses tgl
09 jan 2017.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar