MAKALAH KEHADIRAN DAN KETIDAKHADIRAN PESERTA DIDIK
oleh Syafi'i
BAB I
oleh Syafi'i
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang.
Manajemen
selain mengatur, juga merupakan kegiatan untuk mencapai tujuan atau sasaran
yang telah ditentukan terlebih dahulu dengan memanfaatkan orang lain. Jadi,
dalam manajemen terdapat aktivitas yang saling berhubungan, baik dari
fungsionalitasnya maupun tujuan yang ditargetkan[1]. Dengan manajemen yang tepat dan terarah, tentu prestasi belajar dapat
dimaksimalkan. Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana yang
diharapkan,maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi
belajar antara lain; faktor yang terdapat dalam diri siswa (faktor intern), dan
faktor yang terdiri dari luar siswa (faktor ekstern). Faktor-faktor yang
berasal dari dalam diri anak bersifat biologis sedangkan faktor yang berasal dari
luar diri anak antara lain adalah faktor keluarga, sekolah, masyarakat dan
sebagainya. Sehubungan dengan manajemen peserta didik tersebut secara
sosiologis, peserta didik mempunyai kesamaan-kesamaan. Kesamaan-kesamaan itu
dapat ditangkap dari kenyataan bahwa mereka sama-sama anak manusia. Oleh karena
itu, para peserta didik mempunyai kesamaan-kesamaan unsur kemanusiaan. Fakta
menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun, yang lebih manusiawi dibandingkan
dengan anak lainnya; dan tidak ada anak yang kurang manusia dibandingkan dengan anak yang lainnya. Adanya
kesamaan-kesamaan inilah yang melahirkan konsekuensi yang sama atas hak-hak
yang mereka punyai. Diantara hak-hak tersebut, yang tidak kalah pentingnya
adalah hak untuk mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu[2].
Peserta didik adalah salah satu elemen yang menunjang
keberhasilan suatu manajemen pendidikan. Peserta didik atau siswa adalah input
dari suatu lembaga pendidikan. Sedangkan tolak ukur dari suatu keberhasilan
pendidikan dapat diukur atau dipandang dari output yang dihasilkan. Output yang
berkualitas tentu tidak hanya dinilai dari satu sisi pendidikan, tetapi juga
dari segi kepekaan social serta kecerdasan emosional dan agamanya. Output yang
baik, tentu dihasilkan melalui proses yang berliku-liku, dan juga input yang
berkualitas pula. Namun, input yang berkualitas saja tidak cukup, apabila tidak
dibarengi dengan proses pendidikan yang bermutu. Jadi, dalam manajemen peserta
didik tersebut ada kerjasama dan keterkaitan prosesnya.
Berkaitan dengan hal di atas, keberhasilan dari suatu
pendidikan tidaklah hanya diukur dari kualitas inputnya saja. Banyak sekolah
yang inputnya baik dan berkualitas, outputnys justru malah biasa saja. Input
yang baik akan meghasilkan output yang baik pula, ketika dibarengi dengan
manajemen yang baik. Maka dari itu, penulis akan sedikit berbagi mengenai
manjemen peserta dididk dan hal-hal yang berkaitan dengan manajemen peserta
didik.
B. Rumusan masalah.
1. Apa pengertian dari manajemen peserta didik?
2. Apa pengertian dari kehadiran dan ketidakhadiran peserta didik?
3. Apa saja faktor-faktor penyebab ketidakhadiran peserta didik?
4. Bagaimana pendekatan kehadiran peserta didik?
C. Tujuan.
1. Dapat mengetahui pengertian dari manajemen peserta didik.
2. Dapat mengetahui pengertian dari kehadiran dan ketidakhadiran peserta
didik.
3. Dapat mengetahui faktor-faktor penyebab ketidakhadiran peserta didik.
4. Dapat mengetahui pendekatan kehadiran peserta didik.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian manajemen peserta didik.
Manajemen Peserta Didik merupakan penggabungan dari kata manajemen, dan
peserta didik. Manajemen sendiri diartikan bermacam-macam sesuai dengan sudut
pandang para ahlinya.
Secara etimologis, kata manajemen merupakan terjemahan dari kata management (bahasa Inggris). Kata management sendiri berasal dari kata manage atau magiare yang berarti melatih kuda dalam melangkahkan kakinya.
Dalam pengertian manajemen, terkandung dua kegiatan, yakni kegiatan pikir (mind) dan kegiatan tindak laku (action) (Sahertian, 1298)[3].
Sedangkan manajemen adalah proses yang terdiri atas tindakan-tindakan
perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pegendalian yang dilakukan
untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditentukan melalui
pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya[4].
Adapun definisi peserta didik adalah semua
orang yang terlibat atau terdaftar dalam suatu lembaga pendidikan formal,
melalui jalur, jenjang dan pendidikan tertentu. Jadi, semua orang, baik yang
menempuh jenjang paud sampai perguruan tinggi disebut sebagai peserta didik
atau pelajar.
Manajemen Peserta didik sendiri dapat diartikan sebagai usaha
pengaturan terhadap peserta didik, mulai dari peserta didik tersebut masuk
sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah. Manajemen Peserta Didik juga dapat
diartikan sebagai suatu proses pengurusan segala hal yang berkaitan dengan
siswa di suatu sekolah mulai dari perencanaan, penerimaan siswa, pembinaan yang
dilakukan selama siswa berada di sekolah, sampai dengan siswa menyelesaikan
pendidikannya di sekolah. Dengan kata lain manajemen kesiswaan merupakan
keseluruhan proses penyelenggaraan usaha kerjasama dalam bidang kesiswaan dalam
rangka pencapaian tujuan pembelajaran di sekolah. Dengan demikian Manajemen
peserta didik itu bukanlah dalam bentuk kegiatan-kegiatan pencatatan peserta
didik saja, melainkan meliputi aspek yang lebih luas lagi, yang secara
operasional dapat dipergunakan untuk membantu kelancaran upaya pertumbuhan dan
perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan[5].
B. Pengertian kehadiran dan ketidakhadiran.
Dalam bahasa
ilmiah kehadiran peserta didik biasa disebut dengan istilah presensi siswa dan
ketidak hadiran peserta didik biasa disebut dengan istilah absensi siswa di
sekolah, sedangkan dalam bahasa asing disebut school attendance dan non school
attendance yang artinya ialah kehadiran dan keditak hadiran peserta didik di
sekolah. Imron (1994:59) mengartikan kehadiran dan ketidak hadiran sebagai
berikut.
Kehadiran peserta didik di sekolah (school attendance) adalah kehadiran dan keikut sertaan peserta didik secara fisik dan mental terhadap aktivitas sekolah pada jam-jam efektif di sekolah. Sedangkan ketidak hadiran adalah ketiadaan partisipasi secara fisik peserta didik terhadap kegiatan-kegiatan sekolah.
Kehadiran peserta didik di sekolah (school attendance) adalah kehadiran dan keikut sertaan peserta didik secara fisik dan mental terhadap aktivitas sekolah pada jam-jam efektif di sekolah. Sedangkan ketidak hadiran adalah ketiadaan partisipasi secara fisik peserta didik terhadap kegiatan-kegiatan sekolah.
Pengertian
kehadiran di sekolah bukan hanya berarti peserta didik secara fisik ada di
sekolah, melainkan ialah keterlibatan siswa dalam kegiatan-kegiatan sekolah,
seperti di sebutkan dalam “dictionary of education”, good carter: “attendance
at school not merely being bodily presence but incluiding actual participation
in the work and activities of the school” (Tim Dosen AP, 1988:104).
Dari beberapa
defenisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kehadiran peserta didik ialah
keikutsertaan peserta didik secara fisik dan mental, serta keterlibatan mereka
dalam kegiatan-kegiatan sekolah. Sedangkan ketidak hadiran peserta didik bisa
di kata, tidak terlibatnya peserta didik dalam kegiatan sekolah[6].
C.
Faktor-faktor
penyebab ketidakhadiran peserta didik.
Ada
banyak sumber penyebab ketidakhadiran peserta didik di sekolah. Pertama,
ketidakhadiran yang bersumber dari lingkungan keluarga. Ada kalanya suatu
keluarga mendukung terhadap kehadiran peserta didik di sekolah, dan adakalanya
tidak mendukung. Bahkan dapat juga terjadi, bahwa keluarga justru menjadi
perintang bagi peserta didik untuk hadir di sekolah. Pemecahan atas
ketidakhadiran peserta didik yang bersumber dari keluarga demikian, tentulah
lebih ditujukan pada langkah-langkah kuratif bagi kehidupan keluarga.
1)
Adapun
ketidakhadiran menurut Imron (1994:61-62) yang disebabkan atau bersumber dari
keluarga adalah sebagai berikut:
a.
Kedua
orang tuanya baik ayah maupun ibu sibuk bekerja.
b.
Ada
kegiatan keagamaan di rumah
c.
Ada persoalan di lingkungan keluarga.
d.
Ada
kegiatan darurat di rumah.
e.
Ada
kematian. Kematian di dalam keluarga umumnya membawa duka bagi anak.
f.
Letak
rumah yang jauh dari sekolah.
g.
Ada
keluarga yang sakit.
h.
Baju
seragam yang tidak ada lagi.
i.
Kekurangan
makanan yang sehat. Ini terjadi pada peserta didik yang berada di daerah-daerah
kantong kemiskinan.
j.
Ikut
orang tua berlibur.
k.
Orang
tua pindah tempat kerja.
2)
Ketidakhadiran
yang bersumber dari peserta didik itu sendiri. Hal demikian bisa terjadi,
terutama pada peserta didik yang berjiwa labil serta kurang mendapatkan
pengawasan dari orang tua atau keluarga. Adapun ketidakhadiran yang bersumber
dari peserta didik sendiri adalah sebagai berikut:
a.
Lupa
tidak bersekolah. Hal ini bisa saja terjadi, mungkin karena tidurnya terlarut
malam sehingga anak didik tersebut bangun kesiangan dan secara tidak di sengaja
peserta didik yang bersangkutan lupa untuk mengikuti mata pelajran atau tidak
hadir di sekolah.
b.
Moralnya
tidak baik.
c.
Terjadi
perkelahian antar peserta didik.
d.
Sakit.
e.
Prestasinya
lemah.
3)
ketidakhadiran
yang bersumber dari sekolah. Sekolah juga dipersepsi oleh peserta didik tidak mendukung
terhadap keinginannya. Oleh karena itu, ketidakhadiran mereka di sekolah, dapat
juga bersumber dari lingkungan sekolah. Adapun sumber-sumber penyebab
ketidakhadiran peserta didik di sekolah yang bersumber dari lingkungan sekolah
adalah sebagai berikut:
a.
Lokasi
sekolah yang tidak menyenangkan.
b.
Program
sekolah yang tidak efektif. Hal ini terjadi karena kurikulum yang di gunakan
tidak tepat dalam mendayagunakan program kerja di sekolah. Program sekolah yang
tidak tepat bisa saja mempengaruhi tujuan sekolah dan akibatnya seperti ini,
peserta didik jadi enggan untuk pergi kesekolah.
c.
Terlalu
sedikit peserta didik yang masuk. Tidak sedikit di suatu sekolah yang
kekurangan pelajar atau peserta didik, hal ini bisa juga berdampak pada peserta
didik tersebut.
d.
Biaya
sekolah yang terlalu mahal.
e.
Kurangnya
fasilitas sekolah.
f.
Kurangnya
bimbingan dari guru baik secara individual maupun secara kelompok kepada
peserta didik.
g.
Program
yang ditawarkan oleh sekolah kepada peserta didik tidak menarik.
h.
Suasana
sekolah yang tidak kondusif.
D.
Pendekatan
peningkatan kehadiran.
Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatan kehadiran
peserta didik disekolah adalah dengan melihat kasus per-kasus. Sebab para
peserta didik satu sama yang lainnya,mempunyai masalah-masalah yang berbeda.
1.
Perbaikan
Ligkungan Rumah.
Usaha-usaha yang dapat dilakukan berkenaan berkaitan dengan
perbaikan lingkunan rumah dalam rangka meningkatkan kehadiran peserta didik
disekolah Imron (1994:66) berasumsi sebagai berikut:
a.
Mengantarkan
peserta didik kesekolah tepat pada waktunya. Hal demikian dapat dilakukan oleh
orang tua pada kelas-kelas awal di sekolah dasar. Upaya demikian, dapat
dilakukan juga oleh sekolah misalnya dengan transportasi sekolah yang tepat
waktu dan dapat mengakomodasi peserta didik di sekolah.
b.
Peserta
didik diberi pekerjaan tertentu dan memerintahkan mereka mengumpulkannya
kesekolah.
c.
Orang
tua berusaha memantau waktu tidur anaknya agar yang bersangkutan tidur tepat
waktu sehingga dapat bangun tepat waktu juga. Dapat juga menyediakan weker agar
anaknya bangun pagi-pagi benar sebelum berangkat kesekolah.
d.
Pengupayakan
agar peserta didik memahami sedalam mungkin mengenai tata tertib sekolah.
2.
Perbaikan
Kondisi Sekolah.
Usaha-usaha
yang dapat dilakukan berkenaan dengan perbaikan kondisi sekolah imron (1994:66)
menyatakan sebagai berikut:
a.
Mengunakan
tata tertib sekolah sebagai salah satu pendekatan untuk meningkatkan kehadiran
peserta didik di sekolah. Peserta didik yang melanggar tata tertip sekolah bisa
diberi sangsi sesuai dengan yang ditentukan dan disepakati oleh peserta didik.
Pada awal orientasi peserta didik, para peserta didik memang diminta untuk
menyepakati kesediaanya untuk mentaati peraturan sekolah dan tata tertib
sekolah.
b.
Memberikan
pengertian kepada peserta didik akan arti pentingnya kehadiran mereka.
c.
Menjadikan
kehadiran peserta didik disekolah sebagai prasyarat untuk mengikuti ujian atau
kehadiran peserta didik sebagai bagian dari perhitungan nilai ujian di sekolah.
d.
Memperbaiki
kondisi sekolah agar dipersepsi oleh peserta didik sangat menarik.
e.
Memperlibatkan
guru secara aktif dalam upaya peningkatan kehadiran peserta didik.
f.
Selalu
mempresensi peserta didik pada saat awal masuk kelas, baik pada jam-jam pertama
maupun pada saat jam-jam setelah istirahat atau pergantian jam. Mereka yang
tidak ada pada jam-jam tertentu dicatat pada buku absensi dann digolongkan
sebagai peserta yang tidak hadir.
3.
Perbaikan
Terhadap Peserta Didik Sendiri
“Perbaikan terhadap peserta didik sendiri sangat penting, oleh
karena yang menentukan hadir tidaknya mereka sendiri. Usaha yang dilakukan
dapat secara preventif, kuratif dan preservatif” Imron (1994:67). Preventif
dalam kamus lengkap bahasa Indonesia berarti bersifat mencegah atau pencegahan,
pencegahan ini bisa di terapkan dirumah oleh orang tua, di sekolah oleh guru
dan juga di lingkungan mereka tinggal yakni masyarakat. Kuratif dalam kamus
ilmiah popular berarti tindak penyembuhan atau pengobatan sedangkan preservatif
dalam kamus ilmiah popular berarti memelihara, yang berarti memelihara
kebiasaan baik yang sudah terbentuk. Artinya jika ketiga istilah ini sama-sama
di terapkan, maka kehadiran peserta didik dapat di tingkatkan dan
ketidakhadiran peserta didik dapat di kurangi[7].
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan.
Pada umumnya ketidakhadiran siswa dapat
dibagi kedalam tiga bagian: (1) alpa, yaitu ketidakhadiran
tanpa keterangan yang jelas, dengan alasan yang tidak bisa
dipertanggungjawabkan; (2) ijin, ketidakhadiran dengan
keterangan dan alasan tertentu yang bisa dipertanggungjawabkan,
biasanya disertai surat pemberitahuan dari orang tua; dan (3) sakit,
ketidakhadiran dengan alasan gangguan kesehatan, biasanya disertai surat
pemberitahuan dari orang tua atau surat keterangan sakit dari dokter.
Rekapitulasi data ketidakhadiran siswa secara perorangan, –baik karena alasan
alpa, sakit maupun ijin,– seyogyanya disampaikan kepada orang tua,
minimal dilakukan setiap bulan. Hal ini penting dilakukan agar orang tua
dapat mengetahuinya dan dapat mengambil peran dalam upaya mencegah dan
mengatasi masalah ketidakhadiran anaknya.
[1] Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam, Bandung:
Pustaka Setia, 2012, hlm 4
[2] Ali Imron, Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah,
Jakarta: Bumi Aksara, 2011, hlm 2
[3] Ali Imron, Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah,
Jakarta: Bumi Aksara, 2011, hlm 4
[4] Ibid, hlm 2-3.
[5] http://lilisaryanti.blogspot.co.id/2015/01/v-behaviorurldefaultvmlo.html diakses tgl
13-11-2017.
[6] http://riyanpurnamafers.blogspot.co.id/2011/02/pengaturan-kehadiran-dan-ketidak.html diakses tgl
13-11-2017.
[7] http://riyanpurnamafers.blogspot.co.id/2011/02/pengaturan-kehadiran-dan-ketidak.html diakses tgl
13-11-2017.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar