Sabtu, 06 Januari 2018

MAKALAH KEHADIRAN DAN KETIDAKHADIRAN PESERTA DIDIK



MAKALAH KEHADIRAN DAN KETIDAKHADIRAN PESERTA DIDIK
oleh Syafi'i 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang.
Manajemen selain mengatur, juga merupakan kegiatan untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan terlebih dahulu dengan memanfaatkan orang lain. Jadi, dalam manajemen terdapat aktivitas yang saling berhubungan, baik dari fungsionalitasnya maupun tujuan yang ditargetkan[1]. Dengan manajemen yang tepat dan terarah, tentu prestasi belajar dapat dimaksimalkan. Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana yang diharapkan,maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain; faktor yang terdapat dalam diri siswa (faktor intern), dan faktor yang terdiri dari luar siswa (faktor ekstern). Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri anak bersifat biologis sedangkan faktor yang berasal dari luar diri anak antara lain adalah faktor keluarga, sekolah, masyarakat dan sebagainya. Sehubungan dengan manajemen peserta didik tersebut secara sosiologis, peserta didik mempunyai kesamaan-kesamaan. Kesamaan-kesamaan itu dapat ditangkap dari kenyataan bahwa mereka sama-sama anak manusia. Oleh karena itu, para peserta didik mempunyai kesamaan-kesamaan unsur kemanusiaan. Fakta menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun, yang lebih manusiawi dibandingkan dengan anak lainnya; dan tidak ada anak yang kurang manusia  dibandingkan dengan anak yang lainnya. Adanya kesamaan-kesamaan inilah yang melahirkan konsekuensi yang sama atas hak-hak yang mereka punyai. Diantara hak-hak tersebut, yang tidak kalah pentingnya adalah hak untuk mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu[2].
Peserta didik adalah salah satu elemen yang menunjang keberhasilan suatu manajemen pendidikan. Peserta didik atau siswa adalah input dari suatu lembaga pendidikan. Sedangkan tolak ukur dari suatu keberhasilan pendidikan dapat diukur atau dipandang dari output yang dihasilkan. Output yang berkualitas tentu tidak hanya dinilai dari satu sisi pendidikan, tetapi juga dari segi kepekaan social serta kecerdasan emosional dan agamanya. Output yang baik, tentu dihasilkan melalui proses yang berliku-liku, dan juga input yang berkualitas pula. Namun, input yang berkualitas saja tidak cukup, apabila tidak dibarengi dengan proses pendidikan yang bermutu. Jadi, dalam manajemen peserta didik tersebut ada kerjasama dan keterkaitan prosesnya.
Berkaitan dengan hal di atas, keberhasilan dari suatu pendidikan tidaklah hanya diukur dari kualitas inputnya saja. Banyak sekolah yang inputnya baik dan berkualitas, outputnys justru malah biasa saja. Input yang baik akan meghasilkan output yang baik pula, ketika dibarengi dengan manajemen yang baik. Maka dari itu, penulis akan sedikit berbagi mengenai manjemen peserta dididk dan hal-hal yang berkaitan dengan manajemen peserta didik.
B.     Rumusan masalah.
1.      Apa pengertian dari manajemen peserta didik?
2.      Apa pengertian dari kehadiran dan ketidakhadiran peserta didik?
3.      Apa saja faktor-faktor penyebab ketidakhadiran peserta didik?
4.      Bagaimana pendekatan kehadiran peserta didik?

C.     Tujuan.
1.      Dapat mengetahui pengertian dari manajemen peserta didik.
2.      Dapat mengetahui pengertian dari kehadiran dan ketidakhadiran peserta didik.
3.      Dapat mengetahui faktor-faktor penyebab ketidakhadiran peserta didik.
4.      Dapat mengetahui pendekatan kehadiran peserta didik.

BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian manajemen peserta didik.
Manajemen Peserta Didik merupakan penggabungan dari kata manajemen, dan peserta didik. Manajemen sendiri diartikan bermacam-macam sesuai dengan sudut pandang para ahlinya.
Secara etimologis, kata manajemen merupakan terjemahan dari kata management (bahasa Inggris). Kata management sendiri berasal dari kata manage atau magiare yang berarti melatih kuda dalam melangkahkan kakinya. Dalam pengertian manajemen, terkandung dua kegiatan, yakni kegiatan pikir (mind) dan kegiatan tindak laku (action) (Sahertian, 1298)[3].
Sedangkan manajemen adalah proses yang terdiri atas tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pegendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya[4].
Adapun definisi peserta didik adalah semua orang yang terlibat atau terdaftar dalam suatu lembaga pendidikan formal, melalui jalur, jenjang dan pendidikan tertentu. Jadi, semua orang, baik yang menempuh jenjang paud sampai perguruan tinggi disebut sebagai peserta didik atau pelajar.
Manajemen Peserta didik sendiri dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik, mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah. Manajemen Peserta Didik juga dapat diartikan sebagai suatu proses pengurusan segala hal yang berkaitan dengan siswa di suatu sekolah mulai dari perencanaan, penerimaan siswa, pembinaan yang dilakukan selama siswa berada di sekolah, sampai dengan siswa menyelesaikan pendidikannya di sekolah. Dengan kata lain manajemen kesiswaan merupakan keseluruhan proses penyelenggaraan usaha kerjasama dalam bidang kesiswaan dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran di sekolah. Dengan demikian Manajemen peserta didik itu bukanlah dalam bentuk kegiatan-kegiatan pencatatan peserta didik saja, melainkan meliputi aspek yang lebih luas lagi, yang secara operasional dapat dipergunakan untuk membantu kelancaran upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan[5].
B.       Pengertian kehadiran dan ketidakhadiran.
Dalam bahasa ilmiah kehadiran peserta didik biasa disebut dengan istilah presensi siswa dan ketidak hadiran peserta didik biasa disebut dengan istilah absensi siswa di sekolah, sedangkan dalam bahasa asing disebut school attendance dan non school attendance yang artinya ialah kehadiran dan keditak hadiran peserta didik di sekolah. Imron (1994:59) mengartikan kehadiran dan ketidak hadiran sebagai berikut.
Kehadiran peserta didik di sekolah (school attendance) adalah kehadiran dan keikut sertaan peserta didik secara fisik dan mental terhadap aktivitas sekolah pada jam-jam efektif di sekolah. Sedangkan ketidak hadiran adalah ketiadaan partisipasi secara fisik peserta didik terhadap kegiatan-kegiatan sekolah.
Pengertian kehadiran di sekolah bukan hanya berarti peserta didik secara fisik ada di sekolah, melainkan ialah keterlibatan siswa dalam kegiatan-kegiatan sekolah, seperti di sebutkan dalam “dictionary of education”, good carter: “attendance at school not merely being bodily presence but incluiding actual participation in the work and activities of the school” (Tim Dosen AP, 1988:104).
Dari beberapa defenisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kehadiran peserta didik ialah keikutsertaan peserta didik secara fisik dan mental, serta keterlibatan mereka dalam kegiatan-kegiatan sekolah. Sedangkan ketidak hadiran peserta didik bisa di kata, tidak terlibatnya peserta didik dalam kegiatan sekolah[6].
C.       Faktor-faktor penyebab ketidakhadiran peserta didik.
Ada banyak sumber penyebab ketidakhadiran peserta didik di sekolah. Pertama, ketidakhadiran yang bersumber dari lingkungan keluarga. Ada kalanya suatu keluarga mendukung terhadap kehadiran peserta didik di sekolah, dan adakalanya tidak mendukung. Bahkan dapat juga terjadi, bahwa keluarga justru menjadi perintang bagi peserta didik untuk hadir di sekolah. Pemecahan atas ketidakhadiran peserta didik yang bersumber dari keluarga demikian, tentulah lebih ditujukan pada langkah-langkah kuratif bagi kehidupan keluarga.
1)    Adapun ketidakhadiran menurut Imron (1994:61-62) yang disebabkan atau bersumber dari keluarga adalah sebagai berikut:
a.    Kedua orang tuanya baik ayah maupun ibu sibuk bekerja.
b.    Ada kegiatan keagamaan di rumah
c.     Ada persoalan di lingkungan keluarga.
d.   Ada kegiatan darurat di rumah.
e.    Ada kematian. Kematian di dalam keluarga umumnya membawa duka bagi anak.
f.     Letak rumah yang jauh dari sekolah.
g.    Ada keluarga yang sakit.
h.    Baju seragam yang tidak ada lagi.
i.      Kekurangan makanan yang sehat. Ini terjadi pada peserta didik yang berada di daerah-daerah kantong kemiskinan.
j.      Ikut orang tua berlibur.
k.    Orang tua pindah tempat kerja.

2)   Ketidakhadiran yang bersumber dari peserta didik itu sendiri. Hal demikian bisa terjadi, terutama pada peserta didik yang berjiwa labil serta kurang mendapatkan pengawasan dari orang tua atau keluarga. Adapun ketidakhadiran yang bersumber dari peserta didik sendiri adalah sebagai berikut:
a.    Lupa tidak bersekolah. Hal ini bisa saja terjadi, mungkin karena tidurnya terlarut malam sehingga anak didik tersebut bangun kesiangan dan secara tidak di sengaja peserta didik yang bersangkutan lupa untuk mengikuti mata pelajran atau tidak hadir di sekolah.
b.    Moralnya tidak baik.
c.    Terjadi perkelahian antar peserta didik.
d.   Sakit.
e.    Prestasinya lemah.
3)      ketidakhadiran yang bersumber dari sekolah. Sekolah juga dipersepsi oleh peserta didik tidak mendukung terhadap keinginannya. Oleh karena itu, ketidakhadiran mereka di sekolah, dapat juga bersumber dari lingkungan sekolah. Adapun sumber-sumber penyebab ketidakhadiran peserta didik di sekolah yang bersumber dari lingkungan sekolah adalah sebagai berikut:
a.     Lokasi sekolah yang tidak menyenangkan.
b.    Program sekolah yang tidak efektif. Hal ini terjadi karena kurikulum yang di gunakan tidak tepat dalam mendayagunakan program kerja di sekolah. Program sekolah yang tidak tepat bisa saja mempengaruhi tujuan sekolah dan akibatnya seperti ini, peserta didik jadi enggan untuk pergi kesekolah.
c.     Terlalu sedikit peserta didik yang masuk. Tidak sedikit di suatu sekolah yang kekurangan pelajar atau peserta didik, hal ini bisa juga berdampak pada peserta didik tersebut.
d.    Biaya sekolah yang terlalu mahal.
e.     Kurangnya fasilitas sekolah.
f.     Kurangnya bimbingan dari guru baik secara individual maupun secara kelompok kepada peserta didik.
g.    Program yang ditawarkan oleh sekolah kepada peserta didik tidak menarik.
h.    Suasana sekolah yang tidak kondusif.

D.    Pendekatan peningkatan kehadiran.
Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatan kehadiran peserta didik disekolah adalah dengan melihat kasus per-kasus. Sebab para peserta didik satu sama yang lainnya,mempunyai masalah-masalah yang berbeda.
1.         Perbaikan Ligkungan Rumah.
Usaha-usaha yang dapat dilakukan berkenaan berkaitan dengan perbaikan lingkunan rumah dalam rangka meningkatkan kehadiran peserta didik disekolah Imron (1994:66) berasumsi sebagai berikut:

a.       Mengantarkan peserta didik kesekolah tepat pada waktunya. Hal demikian dapat dilakukan oleh orang tua pada kelas-kelas awal di sekolah dasar. Upaya demikian, dapat dilakukan juga oleh sekolah misalnya dengan transportasi sekolah yang tepat waktu dan dapat mengakomodasi peserta didik di sekolah.
b.      Peserta didik diberi pekerjaan tertentu dan memerintahkan mereka mengumpulkannya kesekolah.
c.       Orang tua berusaha memantau waktu tidur anaknya agar yang bersangkutan tidur tepat waktu sehingga dapat bangun tepat waktu juga. Dapat juga menyediakan weker agar anaknya bangun pagi-pagi benar sebelum berangkat kesekolah.
d.      Pengupayakan agar peserta didik memahami sedalam mungkin mengenai tata tertib sekolah.

2.                   Perbaikan Kondisi Sekolah.
Usaha-usaha yang dapat dilakukan berkenaan dengan perbaikan kondisi sekolah imron (1994:66) menyatakan sebagai berikut:
a.       Mengunakan tata tertib sekolah sebagai salah satu pendekatan untuk meningkatkan kehadiran peserta didik di sekolah. Peserta didik yang melanggar tata tertip sekolah bisa diberi sangsi sesuai dengan yang ditentukan dan disepakati oleh peserta didik. Pada awal orientasi peserta didik, para peserta didik memang diminta untuk menyepakati kesediaanya untuk mentaati peraturan sekolah dan tata tertib sekolah.
b.      Memberikan pengertian kepada peserta didik akan arti pentingnya kehadiran mereka.
c.       Menjadikan kehadiran peserta didik disekolah sebagai prasyarat untuk mengikuti ujian atau kehadiran peserta didik sebagai bagian dari perhitungan nilai ujian di sekolah.
d.      Memperbaiki kondisi sekolah agar dipersepsi oleh peserta didik sangat menarik.
e.       Memperlibatkan guru secara aktif dalam upaya peningkatan kehadiran peserta didik.
f.       Selalu mempresensi peserta didik pada saat awal masuk kelas, baik pada jam-jam pertama maupun pada saat jam-jam setelah istirahat atau pergantian jam. Mereka yang tidak ada pada jam-jam tertentu dicatat pada buku absensi dann digolongkan sebagai peserta yang tidak hadir.
3.                   Perbaikan Terhadap Peserta Didik Sendiri
“Perbaikan terhadap peserta didik sendiri sangat penting, oleh karena yang menentukan hadir tidaknya mereka sendiri. Usaha yang dilakukan dapat secara preventif, kuratif dan preservatif” Imron (1994:67). Preventif dalam kamus lengkap bahasa Indonesia berarti bersifat mencegah atau pencegahan, pencegahan ini bisa di terapkan dirumah oleh orang tua, di sekolah oleh guru dan juga di lingkungan mereka tinggal yakni masyarakat. Kuratif dalam kamus ilmiah popular berarti tindak penyembuhan atau pengobatan sedangkan preservatif dalam kamus ilmiah popular berarti memelihara, yang berarti memelihara kebiasaan baik yang sudah terbentuk. Artinya jika ketiga istilah ini sama-sama di terapkan, maka kehadiran peserta didik dapat di tingkatkan dan ketidakhadiran peserta didik dapat di kurangi[7].

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan.
Pada umumnya ketidakhadiran siswa dapat dibagi kedalam tiga bagian: (1) alpa, yaitu ketidakhadiran tanpa keterangan yang jelas,  dengan alasan yang  tidak bisa dipertanggungjawabkan; (2) ijin, ketidakhadiran dengan keterangan dan  alasan tertentu yang  bisa dipertanggungjawabkan, biasanya  disertai surat pemberitahuan dari orang tua; dan   (3) sakit, ketidakhadiran dengan alasan gangguan kesehatan, biasanya  disertai surat pemberitahuan dari orang tua atau surat keterangan sakit dari dokter. Rekapitulasi data ketidakhadiran siswa secara perorangan, –baik karena alasan alpa, sakit maupun ijin,– seyogyanya  disampaikan kepada orang tua,  minimal  dilakukan setiap bulan. Hal ini penting dilakukan agar orang tua dapat mengetahuinya dan dapat mengambil peran dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah ketidakhadiran anaknya.


[1] Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2012, hlm 4
[2] Ali Imron, Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah, Jakarta: Bumi Aksara, 2011, hlm 2
[3] Ali Imron, Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah, Jakarta: Bumi Aksara, 2011, hlm 4
[4] Ibid, hlm 2-3.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar