Jumat, 05 Januari 2018

REVISI KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM

staimalahikam.ac.id


REVISI
KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM
(Diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Kepemimpinan)
Dosen Pengampu:Akhmad Sa’id, M.Pd.I.


 




Oleh: Syafi’i
NIM: 2015.77.20.011
Progam Studi: Manajemen Pendidikan Islam
STAI “MA’HAD ALY AL-HIKAM
MALANG
Januari 2017




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri.Dalam hidup, manusia selalu berinteraksi dengan sesama serta dengan lingkungan.Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun dalam kelompok kecil.Hidup dalam kelompok tentulah tidak mudah.Untuk menciptakan kondisi kehidupan yang harmonis anggota kelompok haruslah saling menghormati dan menghargai.Keteraturan hidup perlu selalu dijaga.Hidup yang teratur adalah impian setiap insan.Menciptakan dan menjaga kehidupan yang harmonis adalah tugas manusia.
Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi dibanding makhluk Tuhan lainnya.Manusia dianugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk.Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya mampu mengelola lingkungan dengan baik.Allah SWT menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi hanya untuk menyembah dan beribadah kepadaNya.Mengerjakan segala perintahNya, mulai dari shalat, puasa, zakat, dan segala hal yang mendatangkan kemaslahatan bagi diri manusia itu sendiri dan menjauhi laranganNya agar dapat mencegah kerusakan di muka bumi.
Tidak hanya lingkungan yang perlu dikelola dengan baik, kehidupan sosial manusiapun perlu dikelola dengan baik.Untuk itulah dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas.Sumber daya yang berjiwa pemimpin, paling tidak untuk memimpin dirinya sendiri.
Dengan berjiwa pemimpin, manusia akan dapat mengelola diri, kelompok dan lingkungan dengan baik. Khususnya dalam penanggulangan masalah yang relative pelik dan sulit.Di sinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.
B.     Rumusan Masalah.
1.                  Apakah pengertian kepemimpinan menurut Islam?
2.                  Apa dasar dan landasan kepemimpinan islam ?
3.                  Apa kriteria pemimpin menurut islam?
C.  Tujuan
1.                  Dapat memahami pengertian kepemimpinan menurut islam.
2.                  Dapat memahami dasar dan landasan kepemimipinan islam.
3.                  Dapat memahami kriteria-kriteria kepemimipinan islam.

BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Kepemimpinan menurut Islam.
Banyak para ahli yang mengemukakan pendapatnya berkaitan dengan definisi kepemimpinan, salah satunya menurut George R. Terry yang berpendapat bahwa :“Kepemimpinan adalah kegiatan-kegiatan untuk mempengaruhi orang orang agar mau bekerja sama untuk mencapai tujuan kelompok secara sukarela.[1]
Dari defenisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam kepemimpinan ada keterkaitan antara pemimpin dengan berbagai kegiatan yang dihasilkan oleh pemimpin tersebut.Pemimpin adalah seseorang yang dapat mempersatukan orang-orang dan dapat mengarahkannya sedemikian rupa untuk mencapai tujuan tertentu. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan oleh seorang pemimpin, maka ia harus mempunyai kemampuan untuk mengatur lingkungan kepemimpinannya.
Jika dilihat dari segi ajaran Islam, kepemimpinan berarti kegiatan menuntun, membimbing, memandu  dan menunjukkan jalan yang diridhai Allah SWT. Kegiatan ini bermaksud untuk menumbuhkembangkan  kemampuannya sendiri di lingkungan orang-orang yang dipimpin dalam usahanya mencapai ridha Allah SWT selama kehidupannya di dunia dan di akhirat. Dalam hal ini Allah berfirman:
….ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهۡتَدِيَ لَوۡلَآ أَنۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُۖ… ٤٣ 
Artinya: "….Segala puji bagi Allah yang telah memimpin kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk….
Firman Allah diatas jelas bahwa untuk mencapai jalan yang diridhai Allah SWT diperlukan para pemimpin yang akan menjalankan kepemimpinan berdasarkan petunjuk-petunjuk-Nya.
Berbicara tentang kepemimpinan dalam pandangan agama Islam, maka kita akan merujuk terhadap pribadi dan pola kepemimpinan yang ditampilkan oleh Nabi Muhammad SAW. yang lebih dikenal dengan istilah uswatun khasanah yang artinya teladan yang mulia atau baik. Keteladanan nabi muhammad SAW. ini telah dijamin oleh Allah SWT. dengan firman Nya dalam Al Qur’an yang berbunyi :Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri taulada yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari qiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab, 21)
Keteladanan Nabi Muhammad SAW. sangat tepat jika dicontoh oleh manusia pada umumnya dan para pemimpin pada khsusnya. Pengaruh kepemimpinan beliau masih tetap kuat, dan bagi umat Islam beliau merupakan figure keteladanan yang paling utama dalam berbagai segi kehidupan.
Beliau dengan sangat teliti dan hati-hati mencontohkan semua perbuatan baik dan menjauhkan diri dari melakukan perbuatan buruk dengan sangat teliti dan jelas.Sesungguhnya banyak hal yang bisa dijabarkan dari sifat Rasulullah SAW namun semoga 4 sifat teladan ini sungguh menjelaskan betapa sifat kepempimpinan beliau mengakar kepada kita walau beliau telah wafat beberapa abad yang lalu, sifat kepemimpinan beliau disegani kawan dan dihormati lawan sekalipun.
Menurut pemakalah, kepemimpinan menurut Islam adalah kegiatan mengatur, menuntun,  menunjukkan jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT untuk mencapai kebahagia’an didunia dan akhirat.kepemimpinan haruslah berlandaskan pada hukum Allah SWT.
Dalam sejarah kepeminnan Islam banyak istilah yang dipakai untuk menyebut seorang pemimpin.Istilah yang dipakai itu sebenarnya mencerminkan tugas yang seharusnya dijalankan oleh seorang pemimpin. Istilah itu diantaranya :
  • KHALIFAH[2], secara  etimologis berarti pengganti atau pelanjut, dan yang dimaksud adalah pengganti dan pelanjut tugas-tugas Rasulullah SAW. Dalam melestarikan nilai nilai agama dan dalam mengatur  kehidupan dunia. Maka dengan demikian tugas kepemimpinan dalam Islam adalah  melanjutkan tugas tugas risalah yang diemban Rasulullah.
  • IMAM[3], secara etimologis  imam artinya yang diikuti dan dita`ati serta diteladani.Dalam salah satu Hadist Rasulullah bersabda :
انما جعل الامام ليؤتم به
Artinya: Sesungguhnya seseorang dijadikan imam itu untuk diikuti. Ini mengisyaratkan bahwa tugas  seorang peminpin itu untuk    diikuti dan ditaati.
  • AMIER[4], secara bahasa amier artinya adalah yang diperintah atau disuruh.Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Umar bin Khaththab RA. Ini menggambarkan bahwa seorang pemimpin itu adalah orang yang siap diperintah dan disuruh oleh umat, demi kepentingan mereka. Oleh karena itu tugas seorang pemimpin  dalam Islam adalah melayani ummat bukan yang dilayani oleh ummat. Rasulullah mengatakan :
سيد القوم خادمهم
Artinya: Pemimpin suatu kaum itu adalah pelayan mereka.
  • RA`IN[5], arti bahasanya adalah pengembala, tugas seorang pengembala adalah menjaga, merawat dan memberi perhatian yang penuh kepada yang digembalanya, dan itulah tugas seorang pemimpin terhadap siapa yang dipimpinnya.
  • QAA `ID, arti bahasanya adalah penuntun,pembimbing, yang artinya seorang pemimpin itu punya tugas sebagai penuntun ummat dan pembimbing mereka ke jalan yang benar yang diridhai oleh Allah., bukan menjauhkan ummat dari jalan Allah.
  • SULTHAN[6], Kata sulthan berasal dari akar kata s-l-th. Al-Fayyumi (t.th:285), ahli leksikografi Arab abad ke-8, telah menyatakan bahwa kata sulthan bermakan ‘orang yang berkuasa’. Selain itu, kata ini juga dipergunakan untuk mengacu pada orang, di samping dipergunakan sebagai abstract noun yang berarti ‘kekuasaan’ atau ‘pemerintahan’. Sementara itu, kata ini dalam bahasa Indonesia hanya dimaknai dengan ‘raja’ atau ‘baginda’ (KBBI, 2001: 1100).
·         MALIK[7], Kata malik berasal dari akar kata m-l-k, yang menurut Ibn Zakariya (1994: 996) menunjukkan kekuatan dan vitalitas dalam satu hal. Seseorang disebut malik bila ia bisa mengendalikan kekuasaan dan pengaruhnya terhadap orang banyak (Al-Fayyumi t.th.: 579).
Menurut Al-Ashfahani (1961: 472), kata malik bermakna ‘orang yang memegang otoritas memerintah dan melarang orang banyak’. Kata ini hanya berlaku untuk kepemimpinan terhadap manusia. Dalam bahasa Arab, hanya ada frasa malik an-nas ‘raja manusia’ dan tidak ada frasa malik al-asyya’ ‘raja sesuatu’. Sementara itu, kata ini dalam bahasa Indonesia diberikan arti ‘yang mempunyai’, ‘tuan’, dan ‘raja’ (KBBI, 2001: 706.
B.     Dasar dan Landasan Kepemimpinan Islam
1.      Dasar Kepemimpinan Islam[8]
a)      Dasar Tauhid
Dasar tauhid atau dasar menegakkan kalimat tauhid serta memudahkan penyebaran islam kepada seluruh umat manusia. Dalam al–Qur’an dasar ini dijelaskan dalam berbagai surat dan ayat,  diantaranya QS. Al-Ikhlas ayat  1- 4:
قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ١  ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ٢  لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ ٣  وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ[9] ٤ 
Artinya: 1. Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa. 2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. 3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. 4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia"
- QS. al-Baqarah ayat 163
وَإِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞوَٰحِدٞۖلَّآإِلَٰهَإِلَّاهُوَٱلرَّحۡمَٰنُٱلرَّحِيمُ٦٣ 
Artinya: Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang[10].
b)      Dasar Persamaan Derajat Sesama Umat Manusia.
Pada prinsip ini bahwa manusia memiliki derajat yang sama dimata Allah, hanya saja yang membedakan adalah ketaqwaan kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dalam ajaran QS. Al-Hujurat: 13 :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖوَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗاوَقَبَآئِلَلِتَعَارَفُوٓاْۚإِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ[11] ١٣ 
Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Islam tidak pernah mengistimewakan ataupun mendiskriminasikan individu atau golongan. Semua sama dan tidak ada yang berbeda. Islam juga melindungi hak-hak kemanusiaan siapapun dia, muslim atau non muslim, selama mau hidup bersama dan taat terhadap pemimpin dan menjaga kesatuan dan persatuan.
c)      Dasar Persatuan Islamiyyah  (Ukhuwah Islamiyah)
Prinsip ini untuk menggalang dan mengukuhkan semangat persatuan dan kesatuan umat Islam. Hal ini didasarkan pada ajaran Islam dalam al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 103:
وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗاوَلَاتَفَرَّقُواْۚ 
Artinya: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai[12].
d)     Dasar Musyawarah Untuk Mufakat atau Kedaulatan Rakyat
Islam selalu menganjurkan ada kesepakatan dari orang-orang terkait dalam memutuskan suatu perkara yang berhungan dengan kemanusiaan baik dalam kehidupan keluarga, lebih-lebih kehidupan berkelompok untuk menciptakan lingkungan yang damai dan tentram dalam suatu masyarakat tersebut.
Dalam QS. Ali Imran ayat 159 Allah menegaskan tentang pentingnya bermusyawarah dalam memutuskan suatu perkara:
وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ ١٥٩ 
Artinya: dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya[13]
Dengan pengertian demikian maka umat Islam menjadikan musyawarah sebagai dasar pijakan dalam mengambil keputusan dan menetapkan kaidah-kaidahnya. Dengan musyawarah juga umat islam dapat memilih dan mencalonkan kandidat yang memiliki sikap keadilan dan dianggap memiliki kompetensi dalam kepemimpinan untuk mengurus kepentingan mereka.
e)      Dasar Keadilan dan Kesejahteraan Bagi Seluruh Umat.
Atas dasar prinsip ini pemimpin harus menegakkan persamaan hak segenap warganya; maksudnya seorang pemimpin memiliki kewajiban menjaga hak-hak rakyat dan harus dapat merealisasikan keadilan diantara mereka secar keseluruhan tanpa terkecuali.
Prinsip ini didasari firman Allah swt. Pada Surat an-Nahl ayat 90:
۞إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ٩٠ 
Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran[14].
Kelima prinsip atau dasar tersebut harus senantiasa dijadikan landasan dalam menetapkan setiap kebijakan pemimpin sehingga tujuan kepemimpinan dalam Islam akan dapat terwujud dengan sebaik-baiknya.
2.      Landasan Kepemimpinan Islam[15]
a)      Surat Al-Baqarah ayat 30
وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞفِيٱلۡأَرۡضِخَلِيفَة
Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi"[16]
b)      Surat An- Nisa’ ayat 59
  يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّه وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞوَأَحۡسَنُتَأۡوِيلًا٥٩
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya[17].
c)     Surat an-Nur ayat 55
وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ 
Artinya: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa[18],
d)    Surat Shad ayat 26
يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةٗفِيٱلۡأَرۡضِ 
Artinya: Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi[19].
5. Surat An-Nahl ayat 89
وَيَوۡمَ نَبۡعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٖشَهِيدًاعَلَيۡهِممِّنۡ أَنفُسِهِمۡۖ وَجِئۡنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِۚ وَنَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ تِبۡيَٰنٗالِّكُلّشَيۡءٖوَهُدٗىوَرَحۡمَةٗ وَبُشۡرَىٰ لِلۡمُسۡلِمِينَ ٨٩ 
Artinya; (Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri[20].

e)     Hadits Nabi saw. riwayat Imam Bukhari :لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوف
Artinya: Tidak boleh taat terhadap kemaksiatan, sesungguhnya ketaatan itu hanya kepada kebajikan.

C.     Kriteria kepemimpinan Islam
Para ulama telah lama menelusuri Al-Quran dan Hadits dan menyimpulkan minimal ada empat kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai syarat untuk menjadi pemimpin. Semuanya terkumpul di dalam empat sifat yang dimiliki oleh para nabi/rasul sebagai pemimpin umatnya.yaitu[21]:
1.      Shidq, yaitu jujur, kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak di dalam melaksanakan tugasnya. Lawannya adalah bohong.
2.      Amanah, yaitu kepercayaan yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan kepadanya, baik dari orang-orang yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah SWT. Lawannya adalah khianat.
3.      Fathonah, yaitu kecerdasan, cakap, dan handal yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul. Lawannya adalah bodoh.
4.      Tabligh, yaitu penyampaian secara jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan transparansi). Misalnya harus mampu mengkomunikasikan dengan baik kepada rakyat visi, misi dan program-programnya serta segala macam peraturan yang ada secara jujur dan transparan. Lawannya adalah menutup-nutupi (kekurangan) dan melindungi (kesalahan).
Selain ke empat sifat diatas, perlu diketahui pula syarat pemimpin dalam Islam lainnya seperti yang dijabarkan berikut ini:
1.      Beragama Islam, Beriman dan Beramal Shaleh, Pemimpin beragama Islam (QS. Al-Maaidah 5: 51), dan sudah barang tentu pemimpin orang yang beriman, bertaqwa, selalu menjalankan perintah Allah dan rasulnya. Karena ini merupakan jalan kebenaran yang membawa kepada kehidupan yang damai, tentram, dan bahagia dunia maupun akherat. Disamping itu juga harus yang mengamalkan keimanannya itu yaitu dalam bentuk amal soleh.
2.      Niat yang Lurus, Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya… (HR Bukhari&Muslim). Karena itu hendaklah menjadi seorang pemimpin hanya karena mencari keridhoan Allah.
3.      Laki-Laki, Dalam Al-qur’an surat An nisaa’ (4) :34 telah diterangkan bahwa laki laki adalah pemimpin dari kaum wanita.“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan)…”. Selain itu rasullulah SAW pun bersabda: “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (kepemimpinan) mereka kepada seorang wanita.” (HR Al-Bukhari).
4.      Tidak Meminta Jabatan, Rasullullah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu’anhu, ”Wahai Abdul Rahman bin samurah! Janganlah kamu meminta untuk menjadi pemimpin. Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepada kamu karena permintaan, maka kamu akan memikul tanggung jawab sendirian, dan jika kepemimpinan itu diberikan kepada kamu bukan karena permintaan, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.” (HR Bukhari&Muslim).
5.      Berpegang pada Hukum Allah, Allah berfirman, ”Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (Al-Maaidah:49).
6.      Memutuskan Perkara Dengan Adil, Rasulullah bersabda, ”Tidaklah seorang pemimpin mempunyai perkara kecuali ia akan datang dengannya pada hari kiamat dengan kondisi terikat, entah ia akan diselamatkan oleh keadilan, atau akan dijerusmuskan oleh kezhalimannya.” (HR Baihaqi dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Kabir).
7.      Tidak Menerima Hadiah, Seorang rakyat yang memberikan hadiah kepada seorang pemimpin pasti mempunyai maksud tersembunyi, entah ingin mendekati atau mengambil hati. Oleh karena itu, hendaklah seorang pemimpin menolak pemberian hadiah dari rakyatnya. Rasulullah bersabda, “Pemberian hadiah kepada pemimpin adalah pengkhianatan.” (HR Thabrani).
8.      Kuat dan Sehat,…sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya (Al Qashas 28: 26).
9.      BerLemah Lembut, Doa Rasullullah: “Ya Allah, barangsiapa mengurus satu perkara umatku lalu ia mempersulitnya, maka persulitlah ia, dan barang siapa yang mengurus satu perkara umatku lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah lembutlah kepadanya”
10.  Tegas dan bukan Peragu, Rasulullah bersabda, “Jika seorang pemimpin menyebarkan keraguan dalam masyarakat, ia akan merusak mereka.” (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Al-hakim).
Dengan mengetahui hakikat kepemimpinan di dalam Islam serta kriteria dan sifat-sifat apa saja yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, maka kita wajib untuk memilih pemimpin sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan Hadits. Pertanggung jawaban atas pengangkatan seseorang pemimpin akan dikembalikan kepada siapa yang mengangkatnya (masyarakat tersebut). Dengan kata lain masyarakat harus selektif dalam memilih pemimpin dan hasil pilihan mereka adalah “cermin” siapa mereka. Hal ini sesuai dengan pepatah yang berbunyi: “Sebagaimana keadaan kalian, demikian terangkat pemimpin kalian”.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya oleh seseorang: “Mengapa saat Abu Bakar dan Umar menjabat sebagai khalifah kondisinya tertib, namun saat Utsman dan engkau yang menjadi khalifah kondisinya kacau? Jawab Ali: “Karena saat Abu Bakar dan Umar menjadi khalifah, mereka didukung oleh orang-orang seperti aku dan Utsman, namun saat Utsman dan aku yang menjadi khalifah, pendukungnya adalah kamu dan orang-orang sepertimu” (Syadzaraat Adz Dzhahab 1/51).
“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu kaum maka dijadikan pemimpin-pemimpin mereka orang-orang yang bijaksana dan dijadikan ulama-ulama mereka menangani hukum dan peradilan.Juga Allah jadikan harta-benda ditangan orang-orang yang dermawan.Namun, jika Allah menghendaki keburukan bagi suatu kaum maka Dia menjadikan pemimpin-pemimpin mereka orang-orang yang berakhlak rendah.DijadikanNya orang-orang dungu yang menangani hukum dan peradilan, dan harta berada di tangan orang-orang kikir.”(HR. Ad-Dailami)
Demikianlah Al-Quran dan Hadits menekankan bagaimana seharusnya kita memilih dan menjadi pemimpin. Sebab memilih pemimpin dengan baik dan benar adalah sama pentingnya dengan menjadi pemimpin yang baik dan benar.
Menurut pemakalah, gaya kepemimpinan dalam islam  cocok/sesuai dengan a).  gaya kepemimpinan kharismatik. b). demokratis.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Al-Quran dan Hadits sebagai pedoman hidup umat Islam sudah mengatur sejak awal bagaimana seharusnya kita memilih dan menjadi seorang pemimpin.Ada dua hal yang harus dipahami tentang hakikat kepemimpinan. Pertama, kepemimpinan dalam pandangan Al-Quran bukan sekedar kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi merupakan ikatan perjanjian antara dia dengan Allah SWT.Kepemimpinan adalah amanah, titipan Allah SWT.Kedua, kepemimpinan menuntut keadilan.Keadilan adalah lawan dari penganiayaan, penindasan dan pilih kasih.Keadilan harus dirasakan oleh semua pihak dan golongan.
Adapun dasar kepemimpinan islam yaitu: 1).Dasar Tauhid. 2). Dasar Persamaan Derajat Sesama Umat Manusia. 3). Dasar Persatuan Islamiyyah  (Ukhuwah Islamiyah). 4). Dasar Musyawarah Untuk Mufakat atau Kedaulatan Rakyat. 5). Dasar Keadilan dan Kesejahteraan Bagi Seluruh Umat. Sedangkan Landasan kepemimpinan islam ada beberapa landasan, salah satunya adalah Surat Al-Baqarah ayat 30, Surat An- Nisa’ ayat 59, dan lain sebagainya seperti yang telah dipaparkan pemakalah tadi.

Kriteria-kriteria pemimpin menurut islam ada beberapa kriteria, namun minimal seorang pemimpin itu harus mempunyai sekurang-kurangnya 4 syarat, yaitu: 1). Shidiq. 2). Amanah. 3). Fathonah. 4). Tabligh.

REFERENSI

Al-Qur’an.

Al-Hadits.
Agus Saputera. PETUNJUK AL-QURAN DALAM MEMILIH PEMIMPIN. http://riau1.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=472. Diakses 1 desember 2016.
http://www.ldii-sidoarjo.org. Memilih Pemimpin Menurut Islam.Diakses 1 desember 2016.
https://www.datdut.com/5-kata-bermakna-kepala-negara-dalam-islam/ di akses tgl 10 jan 2017



Nawawi, Hadari. Kepemimipinan Menurut Islam. Yogyakarta: GAMA University Press, 1993.




[2] QS al-baqarah :30
[3] Definisi at taftanzani yang dikutip rasyid ridha al-khilafat wal imamah al-‘udzma hal 10.
[4] QS. An-Nisa ayat 59
[5] HR Bukhari dan di QS Al hadid :57
[7] https://www.datdut.com/5-kata-bermakna-kepala-negara-dalam-islam/ di akses tgl 10 jan 2017
[9] QS. Al-Ikhlas ayat  1- 4
[10] QS. al-Baqarah ayat 163

[11] QS. Al-Hujurat: 13
[12] QS. Ali Imran ayat 103
[13] QS. Ali Imran ayat 159
[14] QS an-Nahl ayat 90
[16] QS Al-Baqarah ayat 30
[17]QS An- Nisa’ ayat 59
[18] QS an-Nur ayat 55
[19] QS Shad ayat 26
[20] An-Nahl ayat 89

Tidak ada komentar:

Posting Komentar