Sabtu, 06 Januari 2018

makalah PENDEKATAN DAN TEKNIK PELIBATAN MASYARAKAT DALAM HUMAS DI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

PENDEKATAN DAN TEKNIK PELIBATAN MASYARAKAT DALAM HUMAS DI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM
  (Diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Manajemen Public Relation)
Dosen Pengampu : M Nur Kholiq M.Pd
Oleh :
Syafi’i
NIM : 2015.77.20.011







ProgamStudi: Manajemen Pendidikan Islam
STAI “MA’HAD ‘ALY AL-HIKAM”
MALANG


November 2017


BAB I
PENDAHULUAN

A.                Latar belakang.
Sekolah/madrasah sebagai lembaga pendidikan formal yang mempunyai manajemen tersendiri dalam pengelolaan pendidikan, keberadaannya menjadi semakin dibutuhkan. Karenanya kerjasama antara masyarakat dengan lembaga harus dikembangkan secara sinergis, mengingat adanya kepentingan dan cita-cita yang sama yakni menyelamatkan dan mencerahkan masa depan generasi bangsa. Membangun partisipasi masyarakat terhadap sekolah/madrasah telah memberikan bukti bahwa peran serta masyarakat secara sadar dan aktif dengan penuh pengorbanan akan memberikan perubahan besar terhadap sekolah/madrasah. Jika dilihat dari sisi maknanya, hubungan masyarakat dengan sekolah merupakan komunikasi dua arah antara organisasi dengan publik secara timbal balik dalam rangka mendukung fungsi dan tujuan manajemen dengan meningkatkan pembinaan kerjasama serta pemenuhan kepentingan bersama. Hubungan masyarakat atau Public Relations adalah suatu usaha yang sengaja dilakukan, direncanakan secara berkesinambungan untuk menciptakan saling pengertian antara sebuah lembaga/institusi dengan masyarakat. Humas (PR) adalah sebuah seni sekaligus ilmu sosial dalam menganalisa kecenderungan, meramalkan konsekuensinya, memberikan pengarahan kepada pimpinan institusi/lembaga dan melaksanakan program-program terencana yang dapat memenuhi kepentingan baik institusi maupun lembaga tersebut maupun masyarakat yang terkait.
Teknik hubungan lembaga pendidikan dan masyarakat adalah suatu proses komunikasi antara sekolah dengan masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan pengertian anggota masyarakat tentang kebutuhan pendidikan serta untuk mendorong minat dan kerjasama para anggota masyarakat dalam rangka memperbaiki sekolah[1]. Tanpa bantuan dari masyarakat sebuah lembaga pendidikan tidak dapat berfungsi dengan baik dan tanpa adanya program yang baik maka sebuah lembaga pendidikan akan gagal mencapai tujuannya. Oleh sebab itu penggunaan teknik-teknik dalam menjalin hubungan yang baik antara lebaga pendidikan dan masyarakat sangatlah diperlukan bukan hanya untuk kepentingan lembaga pandidikan itu sendiri melaikan juga akan berguna untuk masyarakat.


B.                 Rumusan masalah.
1.                   Bagaimana pendekatan dalam melibatkan masyarakat didalam humas?
2.                   Apa prinsip dalam pelibatan masyarakat didalam humas?
3.                   Apa saja metode dan teknik  pelibatan masyarakat dalam humas?

C.                 Tujuan.
1.                   Dapat memahami pendekatan dalam pelibatan masyarakat didalam humas.
2.                   Dapat memahami prinsip dalam pelibatan masyarakat.
3.                  Dapat memahami apa saja metode dan teknik pelibatan masyarakat dalam humas.
BAB II
PEMBAHASAN
A.                Pendekatan humas dalam melibatkan masyarakat.
Untuk dapat mendorong dan menyadarkan masyarakat agar dapat berpartisipasi terhadap sekolah/madrasah, bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Akan tetapi menyita banyak pemikiran, banyak tenaga, dan banyak materi. Karena yang digerakkan adalah masyarakat, sementara masyarakat adalah manusia, dan manusia adalah makhluk individu. Setiap individu memiliki karakteristik sifat yang unik, khas, dinamis (berubah-ubah), dan berbeda-beda. Maka hal yang terpenting adalah bagaimana mencari formulasi yang tepat, dengan berbagai upaya, strategi, dan langkah langkah konkrit yang dapat menyentuh hati para partisipan agar mau bergabung dengan lembaga partisipasi masyarakat yang dibentuk. Strategi untuk mendorong dan menyadarkan masyarakat agar dapat berpartisipasi terhadap sekolah/madrasah yaitu: pendekatan bahasa Agama dan ideologis dan pendekatan motivasi kebutuhan pemenuhan diri (self-fulfilment) atau pendekatan mutu.
Pertama, pendekatan bahasa Agama dan ideologi. Pendekatan ini digunakan untuk memberikan pemahaman, penyadaran, dan pentingnya partisipasi masyarakat terhadap lembaga pendidikan Islam. pendekatan ini dinilai lebih efektif dan lebih mudah untuk mendorong masyarakat agar berpartisipasi terhadap madrasah. Faktor ini memiliki implikasi postitif dan sangat efektif. Atas nama agama orang akan rela bekorban apa saja yang ia miliki hingga diri sekalipun.
Kedua, pendekatan motivasi kebutuhan pemenuhan diri (self-fulfilment) atau pendekatan mutu. Pendekatan ini digunakan untuk menggerakkan dan mendorong masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan dan pemahaman yang tinggi terhadap dunia pendidikan. Bahwa masalah kualitas mutu merupakan harapan dan pilihan semua orang. Tidak ada satupun anak manusia memilih memasukkan anaknya pada suatu lembaga apapun tanpa memilih faktor kualitas mutu. Semua orang tua yang memiliki kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai agent perubahan (the change of knowledge) dan ilmu pengetahuan sebagai energi kekuatan (the power of knowledge) bagi putra putrinya, maka masalah biaya tidak menjadi persoalan fundamental untuk memilih sekolah-sekolah yang baik. Tipe masyarakat model ini, melihat bahwa anak adalah investasi yang tidak ada nilainya dengan materi lainnya. Sehingga mereka mengeluarkan biaya sebesar apapun, mereka rela, puas, dan senang[2].
B.                 Prinsip Keterlibatan Masyarakat dalam Pendidikan.
Pada hakekatnya, masyarakat itu mau membantu suatu lembaga pendidikan bilamana lembaga pendidikan tersebut dapat dan mampu menampakkan performannya dengan baik, keunggulannya, eksistensinya serta keberhasilannya secara menyeluruh. Karenanya satuan pendidikan perlu dan bahkan harus mengaplikasikan prinsip-prinsip kelembagaannya dengan sempurna. Dalam hal ini Maisyaroh mengemukan beberapa prinsip meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pendidikan agar mencapai mutu pendidikan yang efektif, yaitu[3]:
1)   Fleksibilitas. Perkembangan kebijakan pendidikan yang sering berubah-rubah, yang menjadi istilah paradigma baru perlu diperhatikan dengan baik oleh satuan pendidikan, sehingga dituntut adanya kelenturan dan adaptasi program satuan pendidikan yang dirancang secara kontinyu terhadap paradigma tersebut, dan itu terjadi pada masyarakat secara umum.
2)   Relevansi. Peran dan fungsi lembaga pendidikan perlu ditetapkan sesuai dengan kondisi masyarakat sekitar yang menjadi latar belakang peserta didik, mau tidak mau lembaga pendidikan harus memperhatikan hal tersebut dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan yang diinginkan. Cocok tidaknya layananpendidikan tergantung kepada masyarakat sekitar lembaga dan yang menggunakan layanan tersebut.
3)   Partisipasi. Lewat program hubungan lembaga pendidikan dan masyarakat, maka lembaga pendidikan harus merencanakan dan membuat programdengan masyarakat serta mengembangkannya guna memperluas dan memperbaiki serta mamadukan pengalaman, kebutuhan dan harapan setiap pihak dengan baik dan efektif.
4)   Komprehensif. Lembaga pendidikan tidak hanya menjalin hubungannya dengan masyarakat sekitar, namun lebih dari itu hubungannya (relations) harus pula diperluas dengan masyarakat secara universal baik dengan masyarakat pada kelompok dunia usaha, politik, sosial dan semacamnya yang sifatnya saling menguntungkan.
Berkaitan dengan sekolah/madrasah, maka prinsip-prinsip yang harus diperhatikan sebagai berikut:
a.         Prinsip otoritas. Kepala sekolah memiliki peran utama dan tanggungjawab dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi seluruh program.
b.        Prinsipkesederhanaan. Program-program hubungan sekolah/madrasah dengan masyarakat disusun dan harus dilaksanakan dengan sederhana, jelas dan realistis sesuai dengan kondisi masyarakat, jangan berlebihan.
c.         Prinsip kejujuran. Kejujuran merupakan unsur terpenting dan bahkan wajib diterapkan dalam organisasi, sekali terdapat informasi yang tidak benar kepada masyarakat maka loyalitas masyarakat akan menurun drastis dan bahkan hilang sama sekali.
d.        Prinsip ketepatan. Segala sesuatu yang akan disampaikan pihak sekolah kepada masyarakat harus memperhatikan ketepatannya, baik isi, waktu, tempat serta tujuan akan dicapainya.
C.                 Metode dan teknik pelibatan masyarakat.
1.                   RRA (Rapid Rural Appraisal).
RRA (Rapid Rural Appraisal) merupakan metode penilaian keadaan desa secara cepat, yang dalam praktek, kegiatan RRA lebih banyak dilakukan oleh “orang luar” dengan tanpa atau sedikit melibatkan masyarakat setempat. Meskipun sering dikatakan sebagai teknik penelitian yang “cepat dan kasar/kotor” tetapi RRA dinilai masih lebih baik dibanding teknik-teknik kuantitatif klasik. Pada dasarnya, metode RRA merupakan proses belajar yang intensif untuk memahami kondisi pedesaan, dilakukan berulang-ulang, dan cepat. Untuk itu diperlukan cara kerja yang khas, seperti tim kerja kecil yang bersifat multidisiplin, menggunakan sejumlah metode, cara, dan pemilihan teknik yang khusus, untuk meningkatkan pengertian atau pemahaman terhadap kondisi perdesaan. Cara kerja tersebut tersebut dipusatkan pada pemahaman pada tingkat komunitas lokal yang digabungkan dengan pengetahuan ilmiah.
Komunikasi dan kerjasama diantara masyarakat desa dan aparat perencana dan pelaksana pembangunan (development agent) adalah sangat penting, dalam kerangka untuk memahami masalah-masalah di perdesaan. Di samping itu, metoda RRA juga berguna dalam memonitor kecenderungan perubahan-perubahan di perdesaan untuk mengurangi ketidakpastian yang terjadi di lapangan dan mengusulkan penyelesaian masalah yang memungkinkan.
Sebagai suatu teknik penilaian, RRA menggabungkan beberapa teknik yang terdiri dari:
1.    Review/telaahan data sekunder, termasuk peta wilayah dan pengamatan lapang secara ringkas.
2.    Oservasi/pengamatan lapang secara langsung.
3.    Wawancara dengan informan kunci dan lokakarya.
4.    Pemetaan dan pembuatan diagram/grafik.
5.    Studi kasus, sejarah lokal, dan biografi.
6.    Kecenderungan-kecenderungan.
7.    Pembuatan kuesioner sederhana yang singkat.
8.    Pembuatan laporan lapang secara cepat.
2.              PRA (Participatory Rural Appraisal).
PRA merupakan penyempurnaan dari RRA. PRA dilakukan dengan lebih banyak melibatkan “orang dalam” yang terdiri dari semua stakeholders dengan difasilitasi oleh orang-luar yang lebih berfungsi sebagai narasumber atau fasilitator dibanding sebagai instruktur atau guru yang menggurui.
PRA adalah suatu metode pendekatan untuk mempelajari kondisi dan kehidupan pedesaan dari, dengan, dan oleh masyarakat desa. Atau dengan kata lain dapat disebut sebagai kelompok metode pendekatan yang memungkinkan masyarakat desa untuk saling berbagi, meningkatkan, dan menganalisis pengetahuan mereka tentang kondisi dan kehidupan desa, membuat rencana dan bertindak.
Konsepsi dasar pandangan PRA adalah pendekatan yang tekanannya pada keterlibatan masyarakat dalam keseluruhan kegiatan. Metode PRA bertujuan menjadikan warga masyarakat sebagai peneliti, perencana, dan pelaksana program pembangunan dan bukan sekedar obyek pembangunan.
Teknik-teknik yang digunakan dalam metoda PRA serupa dengan yang digunakan dalam metode RRA, tetapi berbeda dalam tingkat partisipasi dari masyarakat desa dalam praktik di lapangan. Tidak seperti dalam RRA, masyarakat desa yang dilibatkan dalam PRA memainkan peran yang lebih besar dalam pengumpulan informasi, analisis data dan pengembangan intervensi seperti pada program-program pengembangan masyarakat yang didasarkan pada pengertian terhadap program secara keseluruhan. Proses ini akan memberdayakan masyarakat dan memberi kesempatan kepada mereka untuk melaksanakan kegiatan dalam memecahkan masalah mereka sendiri yang lebih baik dibanding dengan melalui intervensi dari luar.
3.              Action Research.
Dari metode-metode pendekatan masyarakat yang telah diuraikan di atas, sungguhpun satu dan lainnya mengandung kelemahan dan kelebihan namun tidak mungkin meniadakan satu dari yang lain, keduanya akan saling mengisi. Dalam rangka program pengembangan masyarakat, salah satunya melalui suatu pendekatan Action Research (penelitian tindak), atau sering disebut participatory research (penelitian partisipatif).
Pemilihan pendekatan ini berangkat dari suatu keyakinan bahwa komunitas suatu masyarakat mampu menyelesaikan masalah-masalah mereka. Dengan pendekatan ini, masyarakat dilibatkan dalam setiap proses dalam aksi pengembangan masyarakat. Peneliti luar mempunyai fungsi ganda sebagai pengamat terhadap proses sosial yang berjalan dan sekaligus masuk dalam system lokal. Untuk melakukan analisa dengan masyarakat peneliti bertumpu pada kegiatan “aksi-refleksi akasi”. Seluruh tindakan, pengetahuan dan pengalaman masyarakat merupakan realitas sosial yang dikaji/direfleksi kembali.
Hasil refleksi berupa problem mereka. Pemahaman terhadap realitas sosial ini kemudian melahirkan “aksi-aksi pemecahan masalah” menurut cara mereka. Demikian seterusnya masyarakat akan melakukan refleksi kembali terhadap aksi-aksi yang mereka lakukan. Hasil refleksi yang kedua akan melahirkan realitas/masalah baru yang berlainan dengan masalah yang pertama. Oleh karena itu proses aksi refleksi bukanlah merupakan siklus (cyclus proses) karena masalah kedua sebenarnya berlainan dengan masalah pertama[4].
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan.
Untuk dapat mendorong dan menyadarkan masyarakat agar dapat berpartisipasi terhadap sekolah/madrasah, bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Akan tetapi menyita banyak pemikiran, banyak tenaga, dan banyak materi. Karena yang digerakkan adalah masyarakat, sementara masyarakat adalah manusia, dan manusia adalah makhluk individu. Setiap individu memiliki karakteristik sifat yang unik, khas, dinamis (berubah-ubah), dan berbeda-beda
Pada hakekatnya, masyarakat itu mau membantu suatu lembaga pendidikan bilamana lembaga pendidikan tersebut dapat dan mampu menampakkan performannya dengan baik, keunggulannya, eksistensinya serta keberhasilannya secara menyeluruh. Karenanya satuan pendidikan perlu dan bahkan harus mengaplikasikan prinsip-prinsip kelembagaannya dengan sempurna.Dalam hal ini Maisyaroh mengemukan beberapa prinsip meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pendidikan agar mencapai mutu pendidikan yang efektifseperti yang disebutkandiatas.
Daftar Pustaka.
Purwanto dalam Benty dan Gunawan (2015:87)

Sanapiah, Faisal. Partisipasi Masyarakat terhadap Sekolah: Pelajaran dari Lapangan untuk Mewujudkan Visi Direktorat Pembinaan SMP, Malang: UM Press, 2000.


[1]Purwanto dalam Benty dan Gunawan (2015:87)
[2]Sanapiah, Faisal. Partisipasi Masyarakat terhadap Sekolah: Pelajaran dari Lapangan untuk Mewujudkan Visi Direktorat Pembinaan SMP, Malang: UM Press, 2000

Tidak ada komentar:

Posting Komentar