PENDEKATAN DAN TEKNIK PELIBATAN MASYARAKAT DALAM HUMAS DI LEMBAGA
PENDIDIKAN ISLAM
(Diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Manajemen
Public Relation)
Dosen Pengampu : M Nur Kholiq M.Pd
Oleh :
Syafi’i
NIM : 2015.77.20.011
ProgamStudi: Manajemen Pendidikan
Islam
STAI “MA’HAD
‘ALY AL-HIKAM”
MALANG
November 2017
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang.
Sekolah/madrasah
sebagai lembaga pendidikan formal yang mempunyai manajemen tersendiri dalam
pengelolaan pendidikan, keberadaannya menjadi semakin dibutuhkan. Karenanya
kerjasama antara masyarakat dengan lembaga harus dikembangkan secara sinergis,
mengingat adanya kepentingan dan cita-cita yang sama yakni menyelamatkan dan
mencerahkan masa depan generasi bangsa. Membangun partisipasi masyarakat terhadap sekolah/madrasah telah memberikan
bukti bahwa peran serta masyarakat secara sadar dan aktif dengan penuh
pengorbanan akan memberikan perubahan besar terhadap sekolah/madrasah. Jika
dilihat dari sisi maknanya, hubungan masyarakat dengan sekolah merupakan
komunikasi dua arah antara organisasi dengan publik secara timbal balik dalam
rangka mendukung fungsi dan tujuan manajemen dengan meningkatkan pembinaan
kerjasama serta pemenuhan kepentingan bersama. Hubungan masyarakat atau
Public Relations adalah suatu usaha yang sengaja dilakukan, direncanakan secara
berkesinambungan untuk menciptakan saling pengertian antara sebuah
lembaga/institusi dengan masyarakat. Humas (PR) adalah sebuah seni sekaligus
ilmu sosial dalam menganalisa kecenderungan, meramalkan konsekuensinya,
memberikan pengarahan kepada pimpinan institusi/lembaga dan melaksanakan
program-program terencana yang dapat memenuhi kepentingan baik institusi maupun
lembaga tersebut maupun masyarakat yang terkait.
Teknik
hubungan lembaga pendidikan dan masyarakat adalah suatu proses komunikasi
antara sekolah dengan masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan pengertian
anggota masyarakat tentang kebutuhan pendidikan serta untuk mendorong minat dan
kerjasama para anggota masyarakat dalam rangka memperbaiki sekolah[1].
Tanpa bantuan dari masyarakat sebuah lembaga pendidikan tidak dapat berfungsi
dengan baik dan tanpa adanya program yang baik maka sebuah lembaga pendidikan
akan gagal mencapai tujuannya. Oleh sebab itu penggunaan teknik-teknik dalam
menjalin hubungan yang baik antara lebaga pendidikan dan masyarakat sangatlah
diperlukan bukan hanya untuk kepentingan lembaga pandidikan itu sendiri
melaikan juga akan berguna untuk masyarakat.
B.
Rumusan
masalah.
1.
Bagaimana
pendekatan dalam melibatkan masyarakat didalam humas?
2.
Apa prinsip dalam pelibatan masyarakat
didalam humas?
3.
Apa
saja metode dan teknik pelibatan masyarakat dalam humas?
C.
Tujuan.
1.
Dapat
memahami pendekatan dalam pelibatan masyarakat didalam humas.
2.
Dapat memahami prinsip dalam pelibatan masyarakat.
3.
Dapat memahami apa saja metode dan teknik pelibatan masyarakat dalam humas.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pendekatan
humas dalam melibatkan masyarakat.
Untuk dapat mendorong
dan menyadarkan masyarakat agar dapat berpartisipasi terhadap sekolah/madrasah,
bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Akan tetapi menyita banyak pemikiran,
banyak tenaga, dan banyak materi. Karena yang digerakkan adalah masyarakat,
sementara masyarakat adalah manusia, dan manusia adalah makhluk individu.
Setiap individu memiliki karakteristik sifat yang unik, khas, dinamis
(berubah-ubah), dan berbeda-beda. Maka hal yang terpenting adalah bagaimana
mencari formulasi yang tepat, dengan berbagai upaya, strategi, dan langkah
langkah konkrit yang dapat menyentuh hati para partisipan agar mau bergabung
dengan lembaga partisipasi masyarakat yang dibentuk. Strategi untuk mendorong
dan menyadarkan masyarakat agar dapat berpartisipasi terhadap
sekolah/madrasah yaitu: pendekatan bahasa Agama dan ideologis dan
pendekatan motivasi kebutuhan pemenuhan diri (self-fulfilment) atau pendekatan
mutu.
Pertama, pendekatan
bahasa Agama dan ideologi. Pendekatan ini digunakan untuk memberikan pemahaman,
penyadaran, dan pentingnya partisipasi masyarakat terhadap lembaga pendidikan
Islam. pendekatan ini dinilai lebih efektif dan lebih mudah untuk
mendorong masyarakat agar berpartisipasi terhadap madrasah. Faktor ini memiliki
implikasi postitif dan sangat efektif. Atas nama agama orang akan rela bekorban
apa saja yang ia miliki hingga diri sekalipun.
Kedua, pendekatan
motivasi kebutuhan pemenuhan diri (self-fulfilment) atau pendekatan mutu.
Pendekatan ini digunakan untuk menggerakkan dan mendorong masyarakat yang
memiliki tingkat pendidikan dan pemahaman yang tinggi terhadap dunia
pendidikan. Bahwa masalah kualitas mutu merupakan harapan dan pilihan semua
orang. Tidak ada satupun anak manusia memilih memasukkan anaknya pada suatu
lembaga apapun tanpa memilih faktor kualitas mutu. Semua orang tua yang
memiliki kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai agent perubahan
(the change of knowledge) dan ilmu pengetahuan sebagai energi kekuatan (the power
of knowledge) bagi putra putrinya, maka masalah biaya tidak menjadi persoalan
fundamental untuk memilih sekolah-sekolah yang baik. Tipe masyarakat model ini,
melihat bahwa anak adalah investasi yang tidak ada nilainya dengan materi
lainnya. Sehingga mereka mengeluarkan biaya sebesar apapun, mereka rela, puas,
dan senang[2].
B.
Prinsip Keterlibatan
Masyarakat dalam Pendidikan.
Pada hakekatnya,
masyarakat itu mau membantu suatu
lembaga pendidikan bilamana lembaga pendidikan tersebut
dapat dan mampu menampakkan performannya dengan baik, keunggulannya,
eksistensinya serta keberhasilannya secara menyeluruh. Karenanya
satuan pendidikan perlu dan bahkan harus mengaplikasikan
prinsip-prinsip kelembagaannya dengan sempurna. Dalam hal ini Maisyaroh
mengemukan beberapa prinsip meningkatkan keterlibatan masyarakat
dalam pendidikan agar mencapai mutu pendidikan yang
efektif, yaitu[3]:
1) Fleksibilitas. Perkembangan kebijakan pendidikan yang sering
berubah-rubah, yang menjadi istilah paradigma baru perlu diperhatikan
dengan baik oleh satuan pendidikan, sehingga dituntut adanya kelenturan
dan adaptasi program satuan pendidikan yang dirancang
secara kontinyu terhadap paradigma tersebut, dan itu terjadi pada
masyarakat secara umum.
2) Relevansi. Peran dan fungsi lembaga pendidikan perlu ditetapkan
sesuai dengan kondisi masyarakat sekitar yang menjadi latar belakang peserta
didik, mau tidak mau lembaga pendidikan harus memperhatikan hal
tersebut dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan yang diinginkan.
Cocok tidaknya layananpendidikan tergantung kepada masyarakat sekitar
lembaga dan yang menggunakan layanan tersebut.
3) Partisipasi. Lewat program hubungan
lembaga pendidikan dan masyarakat, maka
lembaga pendidikan harus merencanakan dan membuat programdengan
masyarakat serta mengembangkannya guna memperluas dan memperbaiki serta
mamadukan pengalaman, kebutuhan dan harapan setiap pihak dengan baik dan
efektif.
4) Komprehensif. Lembaga pendidikan tidak hanya menjalin hubungannya
dengan masyarakat sekitar, namun lebih dari itu hubungannya (relations)
harus pula diperluas dengan masyarakat secara universal baik dengan
masyarakat pada kelompok dunia usaha, politik, sosial dan semacamnya yang
sifatnya saling menguntungkan.
Berkaitan dengan sekolah/madrasah, maka prinsip-prinsip yang harus diperhatikan sebagai berikut:
Berkaitan dengan sekolah/madrasah, maka prinsip-prinsip yang harus diperhatikan sebagai berikut:
a.
Prinsip otoritas.
Kepala sekolah memiliki peran utama dan tanggungjawab dalam perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi seluruh program.
b.
Prinsipkesederhanaan. Program-program hubungan
sekolah/madrasah dengan masyarakat disusun dan harus dilaksanakan dengan
sederhana, jelas dan realistis sesuai dengan kondisi masyarakat, jangan
berlebihan.
c.
Prinsip kejujuran.
Kejujuran merupakan unsur terpenting dan bahkan wajib diterapkan dalam
organisasi, sekali terdapat informasi yang tidak benar kepada masyarakat
maka loyalitas masyarakat akan menurun drastis dan bahkan hilang sama sekali.
d.
Prinsip ketepatan.
Segala sesuatu yang akan disampaikan pihak sekolah kepada masyarakat harus
memperhatikan ketepatannya, baik isi, waktu, tempat serta tujuan akan dicapainya.
C.
Metode dan teknik pelibatan masyarakat.
1.
RRA (Rapid Rural Appraisal).
RRA (Rapid Rural Appraisal) merupakan metode penilaian keadaan desa
secara cepat, yang dalam praktek, kegiatan RRA lebih banyak dilakukan oleh
“orang luar” dengan tanpa atau sedikit melibatkan masyarakat setempat. Meskipun
sering dikatakan sebagai teknik penelitian yang “cepat dan kasar/kotor”
tetapi RRA dinilai masih lebih baik dibanding teknik-teknik kuantitatif klasik.
Pada dasarnya, metode RRA merupakan proses belajar yang intensif untuk memahami
kondisi pedesaan, dilakukan berulang-ulang, dan cepat. Untuk itu diperlukan
cara kerja yang khas, seperti tim kerja kecil yang bersifat multidisiplin,
menggunakan sejumlah metode, cara, dan pemilihan teknik yang khusus, untuk
meningkatkan pengertian atau pemahaman terhadap kondisi perdesaan. Cara kerja
tersebut tersebut dipusatkan pada pemahaman pada tingkat komunitas lokal yang
digabungkan dengan pengetahuan ilmiah.
Komunikasi dan
kerjasama diantara masyarakat desa dan aparat perencana dan pelaksana
pembangunan (development agent) adalah sangat penting, dalam kerangka
untuk memahami masalah-masalah di perdesaan. Di samping itu, metoda RRA juga
berguna dalam memonitor kecenderungan perubahan-perubahan di perdesaan untuk
mengurangi ketidakpastian yang terjadi di lapangan dan mengusulkan penyelesaian
masalah yang memungkinkan.
Sebagai suatu teknik
penilaian, RRA menggabungkan beberapa teknik yang terdiri dari:
1. Review/telaahan data sekunder, termasuk peta wilayah dan pengamatan lapang
secara ringkas.
2. Oservasi/pengamatan lapang secara langsung.
3. Wawancara dengan informan kunci dan lokakarya.
4. Pemetaan dan pembuatan diagram/grafik.
5. Studi kasus, sejarah lokal, dan biografi.
6. Kecenderungan-kecenderungan.
7. Pembuatan kuesioner sederhana yang singkat.
8. Pembuatan laporan lapang secara cepat.
2.
PRA (Participatory Rural Appraisal).
PRA merupakan
penyempurnaan dari RRA. PRA dilakukan dengan lebih banyak melibatkan “orang
dalam” yang terdiri dari semua stakeholders dengan difasilitasi oleh orang-luar
yang lebih berfungsi sebagai narasumber atau fasilitator dibanding sebagai
instruktur atau guru yang menggurui.
PRA adalah suatu metode
pendekatan untuk mempelajari kondisi dan kehidupan pedesaan dari, dengan, dan
oleh masyarakat desa. Atau dengan kata lain dapat disebut sebagai kelompok
metode pendekatan yang memungkinkan masyarakat desa untuk saling berbagi,
meningkatkan, dan menganalisis pengetahuan mereka tentang kondisi dan kehidupan
desa, membuat rencana dan bertindak.
Konsepsi dasar
pandangan PRA adalah pendekatan yang tekanannya pada keterlibatan masyarakat
dalam keseluruhan kegiatan. Metode PRA bertujuan menjadikan warga masyarakat
sebagai peneliti, perencana, dan pelaksana program pembangunan dan bukan
sekedar obyek pembangunan.
Teknik-teknik yang
digunakan dalam metoda PRA serupa dengan yang digunakan dalam metode RRA,
tetapi berbeda dalam tingkat partisipasi dari masyarakat desa dalam praktik di
lapangan. Tidak seperti dalam RRA, masyarakat desa yang dilibatkan dalam PRA
memainkan peran yang lebih besar dalam pengumpulan informasi, analisis data dan
pengembangan intervensi seperti pada program-program pengembangan masyarakat
yang didasarkan pada pengertian terhadap program secara keseluruhan. Proses ini
akan memberdayakan masyarakat dan memberi kesempatan kepada mereka untuk
melaksanakan kegiatan dalam memecahkan masalah mereka sendiri yang lebih baik
dibanding dengan melalui intervensi dari luar.
3.
Action Research.
Dari metode-metode pendekatan masyarakat
yang telah diuraikan di atas, sungguhpun satu dan lainnya mengandung kelemahan
dan kelebihan namun tidak mungkin meniadakan satu dari yang lain, keduanya akan
saling mengisi. Dalam rangka program pengembangan masyarakat, salah satunya
melalui suatu pendekatan Action Research (penelitian tindak), atau
sering disebut participatory research (penelitian partisipatif).
Pemilihan pendekatan
ini berangkat dari suatu keyakinan bahwa komunitas suatu masyarakat mampu
menyelesaikan masalah-masalah mereka. Dengan pendekatan ini, masyarakat
dilibatkan dalam setiap proses dalam aksi pengembangan masyarakat. Peneliti
luar mempunyai fungsi ganda sebagai pengamat terhadap proses sosial yang
berjalan dan sekaligus masuk dalam system lokal. Untuk melakukan analisa dengan
masyarakat peneliti bertumpu pada kegiatan “aksi-refleksi akasi”. Seluruh
tindakan, pengetahuan dan pengalaman masyarakat merupakan realitas sosial yang
dikaji/direfleksi kembali.
Hasil refleksi berupa
problem mereka. Pemahaman terhadap realitas sosial ini kemudian melahirkan
“aksi-aksi pemecahan masalah” menurut cara mereka. Demikian seterusnya
masyarakat akan melakukan refleksi kembali terhadap aksi-aksi yang mereka
lakukan. Hasil refleksi yang kedua akan melahirkan realitas/masalah baru yang
berlainan dengan masalah yang pertama. Oleh karena itu proses aksi refleksi
bukanlah merupakan siklus (cyclus proses) karena masalah kedua sebenarnya
berlainan dengan masalah pertama[4].
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan.
Untuk dapat mendorong
dan menyadarkan masyarakat agar dapat berpartisipasi terhadap sekolah/madrasah,
bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Akan tetapi menyita banyak pemikiran,
banyak tenaga, dan banyak materi. Karena yang digerakkan adalah masyarakat,
sementara masyarakat adalah manusia, dan manusia adalah makhluk individu.
Setiap individu memiliki karakteristik sifat yang unik, khas, dinamis
(berubah-ubah), dan berbeda-beda
Pada hakekatnya,
masyarakat itu mau membantu suatu
lembaga pendidikan bilamana lembaga pendidikan tersebut
dapat dan mampu menampakkan performannya dengan baik, keunggulannya,
eksistensinya serta keberhasilannya secara menyeluruh. Karenanya
satuan pendidikan perlu dan bahkan harus mengaplikasikan
prinsip-prinsip kelembagaannya dengan sempurna.Dalam hal ini Maisyaroh mengemukan
beberapa prinsip meningkatkan keterlibatan masyarakat
dalam pendidikan agar mencapai mutu pendidikan yang efektifseperti
yang disebutkandiatas.
Daftar Pustaka.
https://kalsel.kemenag.go.id/opini/271/Manajemen-Keterlibatan-Masyarakat-Dalam-Penyelenggaraan-Pendidikan-%28Konsep-Prinsip-Dan-Srategi%29
diakses pada tgl 19-11-2017.
https://elwamendri.wordpress.com/tag/pendekatan-strategi-dan-metode-pemberdayaan-masyarakat/
diakses pada tgl 19 – 11 – 2017.
Purwanto dalam Benty dan Gunawan (2015:87)
Sanapiah, Faisal. Partisipasi Masyarakat terhadap Sekolah:
Pelajaran dari Lapangan untuk Mewujudkan Visi Direktorat Pembinaan SMP, Malang:
UM Press, 2000.
[2]Sanapiah, Faisal. Partisipasi Masyarakat
terhadap Sekolah: Pelajaran dari Lapangan untuk Mewujudkan Visi Direktorat
Pembinaan SMP, Malang: UM Press, 2000
[4]https://elwamendri.wordpress.com/tag/pendekatan-strategi-dan-metode-pemberdayaan-masyarakat/diaksespadatgl 19 – 11 – 2017.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar