PROSES PEMBENTUKAN
BUDAYA
(Diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Kepemimpinan)
Dosen Pengampu : A.
Said M.Pd
Oleh:
Wildtan Habibi
NIM : 2015.77.20.010
Progam Studi: Manajemen Pendidikan
Islam
STAI “MA’HAD ‘ALY AL-HIKAM”
MALANG
Januari 2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pada
hakikatnya manusia tidak mungkin hidup tanpa keberadaan orang lain karena
kodratnya sebagai mahluk sosial. Kehidupan bersama dengan orang lain tentu
dilandasi oleh aturan-aturan tertentu, karena setiap orang tidak dapat berbuat
semaunya sendiri. manusia cenderung ingin hidup bebas karena kodratya yang lain
sebagai mahluk individu, sehingga manusia diciptakan dengan karakteristik
tersendiri. Akan tetapi kalau keinginan tersebut dipaksakan akan berbenturan
dengan keinginan dan kepentingan pihak lain dan menimbulkan pertentangan oleh
karena itu untuk mencapai keteraturan dan kenyamanan hidup bersama dengan orang
lain, maka dibuat suatu aturan-aturan yang disepakati bersama tentang apa yang
boleh dilakukan, apa yang harus dilakukan, apa yang sebaiknya dilakukan, atau
apa yang jelas-jelas merupakan larangan dalam kehidupan bersama.
Manusia
menjadikan nilai sebagai landasan, alasan atau motivasi dalam segala
tingkahlaku dan perbuatan. Nilai-nilai yang ditanamkan pada seseorang oleh
lingkungannya akan membentuk cara ia memandang lingkungannya dan bersikap
dalam hidup. Cara hidup orang perorangan bila kemudian menjadi cara hidup
sekelompok masyarakat akan membentuk kebudayaan. Sehingga yang membentuk
kebudayaan adalah tata nilai yang dianut seseorang. Bila tata nilai yang dianut
berbeda sehingga berbeda pula pandangan hidupnya, sikap hidup, cita-cita,
tingkahlaku atau perbuatan, maka akan beda pula kebudayaannya. Untuk itu agar
kita lebih memahami maka disini akan dibahas tentang proses pembentukan budaya.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian budaya ?
2. Apa fungsi
dan peran budaya ?
3. Bagaimana
proses pembentukan budaya ?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui pengertian budaya
2. Untuk
mengetahui fungsi dan peran budaya
3. Untuk
mengetahui proses pembentukan budaya
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian
Budaya
Budaya
atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang
merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai
hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.[1]
Budaya
adalah system makna bersama yang
dianut oleh semua anggota agar tercapai tujuan.
Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Budaya
adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah
kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari
banyak unsur yang rumit termasuk sistem agama, politik,
adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan
dan karya seni. Bahasa, sebagai-mana juga
budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak
orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang
berusaha berkomunikasi dengan
orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya,
membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi
dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya yang mana budaya
adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra
yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri.
2.
Fungsi dan peran budaya
Kebudayaan merupakan hal tak terpisahkan dari masyarakat.
Di mana ada masyarakat, di situ ada kebudayaan. Kebudayaan merupakan penopang
kelangsungan hidup masyarakat. Kebudayaan mempunyai fungsi tertentu dalam
masyarakat. Fungsi tersebut bisa kita pahami berdasarkan sudut pandang teori
sosiologi.
Menurut teori fungsional-struktural,
kebudayaan berfungsi untuk memelihara seluruh proses dalam masyarakat.
Pertama-tama, kebudayaan berfungsi mempersatukan masyarakat dan menciptakan
stabilitas. Hal itu terwujud melalui kesediaan masyarakat untuk menerima
nilai-nilai inti sebagai pedoman kehidupan bersama. Lebih lanjut, kebudayaan
memungkinkan masyarakat memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya, baik itu
kebutuhan fisik maupun non-fisik. Sebagaimana sudah dibahas di atas, kebudayaan
terdiri atas empat wujud. Keempat wujud kebudayaan itu semuanya merupakan
kebutuhan masyarakat.
1. Wujud
pertama kebudayaan berupa benda-benda fisik, terutama berfungsi untuk memenuhi
kebutuhan fisik masyarakat.
2. Wujud kedua kebudayaan berupa sistem sosial, terutama berfungsi untuk
memenuhi kebutuhan untuk menata kehidupan bersama.
3.Wujud ketiga kebudayaan berupa sistem budaya berfungsi untuk memenuhi
kebutuhan emosional-spiritual (makna hidup)
4.
Wujud keempat kebudayaan berupa nilai budaya. atau terutama berfungsi
untukmemenuhi kebutuhan identitas diri atau kelompok masyarakat.
Sementara
itu, menurut sudut pandang teori konflik sosial, kebudayaan terutama berfungsi
untuk meemelihara ketidaksamaan sosial. dengan kata lain, kebudayaan
sesungguhnva berfungsi untuk memelihara dominasi kelompok tertentu dalam
masyarakat terhadap kelompok lainnya. Adanya dominasi kelompok tersebut akan
menimbulkan ketidakpuasan kelompok lain. Hal itu pada gilirannya akan mendorong
timhulnya perubahan sosial
Apabila dicermati, kedua sudut pandang tersebut memiliki kebenaran
masing-masing. Karena itu. keduanya memiliki pandangan yang saling melengkapi
dalam memahami fungsi kebudayaan. Atas dasar kedua pandangan tersebut. dapat
disimpulkan bahwa kebudayaan setidaknya memiliki fungsi sebagai berikut.
a. Sebagai pembeda antara satu dengan yang lainnya
b.
Sebagai bentuk identitas
c.
Sebagai perekat
d.
Sebagai kontroling
Dari ketiga fungsi tersebut. fungsi kebudaayan untuk dapat ‘mempersatukan
masyarakat’ umumnya makin problematis. Hal itu karena masyarakat sekarang
cenderung merupakan masyarakat beragam budaya. Tak jarang yang terjadi.
kebudayaan bukannva mempersatukan masyarakat, tetapi malah memecah belah
masyarakat. Karena itu, tantangan masyarakat sekarang adalah bagaimana membuat
agar kebudayaan bisa berfungsi mempersatukan masyarakat di tengah kondisi
keragaman kebudayaan.
3.
Proses pembentukan budaya
Tinjauan Antropologis Terhadap Pembentukan Budaya
Tinjauan antropologis yang dimaksud adalah tinjauan dari
aspek penciptaan budaya oleh manusia. Tinjauan ini dimaksudkan untuk
mendapatkan keterangan sampai seberapa jauh aspek-aspek manusiawi yang
mempengaruhi lahirnya kebudayaan, terutama pembinaan moral bangsa. Suatu
ketentuan yang tidak dapat disangkal adalah bahwa manusia merupakan makhluk
budaya, dalam arti dengan seluruh potensi yang dimiliki, ia mampu melahirkan
cipta, rasa, dan karsa. Inilah yang paling menarik perhatian para pemikir, baik
dari kalangan umum maupun dari kalangan Islam, sehingga banyak di antara mereka
menghabiskan waktunya untuk melakukan penelitian-penelitian dalam bidang ini. Dengan
behavioral science, mereka melakukan analisis psikologis terhadap
tingkah laku manusia guna memperoleh kejelasan terhadap kerja cipta, rasa, dan
karsa, melauli beberapa aspek antara lain: cognitive dan emosi.[2]
Pada saat diciptakan, manusia telah dilengkapi dengan empat fitrah (dorongan)
yang menjadi potensi bagi pengembangan budaya. Dorongan-dorongan itu ialah:
1.
Dorongan Naluri (hidayah fitriyah). Sejak dilahirkan, manusia telah
menampakkan gejala-gejala sebagai pertanda bahwa dia adalah makhluk berbudaya,
antara lain terlihat pada saat lapar ataupun haus, ia mengeluarkan suara
tangisan dan pada saat disusui ibunya, ia mampu menghisap air susu ibu tersebut
tanpa ada yang mengajarinya.
2.
Dorongan Indrawi (hidayah hissiyah). Di samping naluri, manusi juga
diberi kemampuan menerima rangsangan dari luar seperti panas ataupun dingai,
bunyi-bunyian, pemandangan yang indah, bau-bauan, danmanis ataupun asin dengan
perantaraan panca inderanya yaitu: alat peraba, pendengar, pengelihat, pencium,
dan perasa.[3]
Dengan potensi itu manusia dapat menjaga kelangsungan hidupnya, melindungi
dirinya dari bahaya yang mangancam, memenuhi kebutuhan minum, makan, bertempat
tinggal, dan memenuhi kepuasan-kepuasan untuk dirinya.[4]
3.
Dorongan Akal (hidayah 'aqliyah). Gejala-gejala lahir yang ditangkap
oleh pancaindera kadang-kadang menyimpang dari realitas yang sebenarnya,
seperti halnya jalan karena api yang sebenarnya sejajar, tetapi pada jarak
tertentu terlihat bertemu di satu titik, dan tongkat yang sebenarnya lurus,
apabila dicelupkan ke dalam air tampak membengkok. Penyimpangan seperti itu
tentu harus dikontrol dengan kemampuan akal, agar gejala-gejala yang sebenarnya
dapat diketahui. Dengan potensi berfikir daya khayalnya, manusia mampu
melakukan apreseasi (apperception), dan menyalurkan apresiasinya itu
melalui cipta, rasa, dan karsa. Dari kemampuan akal ini, manusia mampu membuat
alat untuk memudahkan keperluan-keperluannya, dari yang sederhana sampai yang
canggih, sehingga oleh orang Barat disebut dengan the tool making animal (makhluk
pembuat alat). Makin tinggi daya kreasi manusia, makin canggih pula
bentuk-bentuk budaya materialnya.
4.
Dorongan Religi (hidayah diniyah). Karena daya pemikiran manusia tidak
dapat menjangkau apa yang terdapat di balik alam maya pada, maka perlu
disambung dengan bimbingan sang Pencipta alam semesta yang diturunkan melalui
para rasul-Nya. Dengan bimbingan ini manusia dapat mengetahui apa yang
semestinya dilakukan, sehingga budaya yang diciptakan dapat berguna baik bagi
dirinya, makhluk sesamanya, ataupun makhluk-akhluk yang lain. Menurut sifatnya,
manusia adalah makhluk berberagama, atau disebut dengan istilah homo-relegiosi.
Dengan berpedoman pada agama, manusia dapat memperhalus budinya, sehingga ia
bisa menjelaskan tugasnya sebagai Master of the World/ khalifahtullah di
muka bumi ini.
Sedangkan proses terbentuknya budaya dalam organisasi yakni
munculnya gagasan-gagasan atau jalan keluar yang kemudian tertanam dalam suatu
budaya dalam organisasi bisa bermula dari mana pun, dari perorangan atau
kelompok, dari tingkat bawah atau puncak. Taliziduhu Ndraha (1997)
menginventarisir sumber-sumber pembentuk budaya organisasi, diantaranya : (1)
pendiri organisasi; (2) pemilik organisasi; (3) Sumber daya manusia (4) lingkungan
/ luar organisasi; (4) orang yang berkepentingan dengan organisasi (stake
holder); dan (6) masyarakat sekitar.
Pembentukan budaya tidak dapat dilakukan dalam waktu yang
sekejap, namun memerlukan waktu dan bahkan biaya yang tidak sedikit untuk dapat
menerima nilai-nilai baru dalam organisasi. Setelah mapan, budaya organisasi
sering mengabadikan dirinya dalam sejumlah hal. Calon anggota kelompok mungkin
akan disaring berdasarkan kesesuaian nilai dan perilakunya dengan budaya
organisasi. Kepada anggota organisasi yang baru terpilih bisa diajarkan gaya
kelompok secara eksplisit. Kisah-kisah atau legenda-legenda historis bisa
diceritakan terus menerus untuk mengingatkan setiap orang tentang nilai-nilai
kelompok dan apa yang dimaksudkan dengannya. Para manajer bisa secara eksplisit
berusaha bertindak sesuai dengan contoh budaya dan gagasan budaya tersebut.
Begitu juga, anggota senior bisa mengkomunikasikan nilai-nilai pokok mereka
secara terus menerus dalam percakapan sehari-hari atau melalui ritual dan
perayaan-perayaan khusus. Orang-orang yang berhasil mencapai gagasan-gagasan
yang tertanam dalam budaya ini dapat terkenal dan dijadikan pahlawan. Proses
alamiah dalam identifikasi diri dapat mendorong anggota muda untuk mengambil
alih nilai dan gaya mentor mereka. Barangkali yang paling mendasar, orang yang
mengikuti norma-norma budaya akan diberi imbalan (reward) sedangkan yang tidak,
akan mendapat sanksi (punishment). Imbalan (reward) bisa berupa materi atau pun
promosi jabatan dalam organisasi tertentu sedangkan untuk sanksi (punishment)
tidak hanya diberikan berdasar pada aturan organisasi yang ada semata, namun
juga bisa berbentuk sanksi sosial. Dalam arti, anggota tersebut menjadi
isolated di lingkungan organisasinya.
Dalam suatu organisasi sesungguhnya tidak ada
budaya yang “baik” atau “buruk”, yang ada hanyalah budaya yang “cocok” atau
“tidak cocok” . Jika dalam suatu organisasi memiliki budaya yang cocok, maka
manajemennya lebih berfokus pada upaya pemeliharaan nilai-nilai- yang ada dan
perubahan tidak perlu dilakukan. Namun jika terjadi kesalahan dalam memberikan
asumsi dasar yang berdampak terhadap rendahnya kualitas kinerja, maka perubahan
budaya mungkin diperlukan. Cara melestarikan budaya antara lain adalah Seleksi, SDM, Struktur
(perubahan), Peraturan. Karena budaya ini telah
berevolusi selama bertahun-tahun melalui sejumlah proses belajar yang telah
berakar, maka mungkin saja sulit untuk diubah. Kebiasaan lama akan sulit
dihilangkan.
BAB III
KESIMPULAN
Budaya
adalah system makna bersama yang
dianut oleh semua anggota agar tercapai tujuan.
Budaya juga merupakan
suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok
orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari
banyak unsur yang rumit termasuk sistem agama, politik,
adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan
dan karya seni.
Fungsi budaya adalah Sebagai
pembeda antara satu dengan yang lainnya, Sebagai bentuk identitas, Sebagai
perekat, Sebagai kontroling. Karena masyarakat sekarang cenderung merupakan
masyarakat beragam budaya. Tak jarang yang terjadi. kebudayaan bukannva
mempersatukan masyarakat, tetapi malah memecah belah masyarakat. Karena itu,
tantangan masyarakat sekarang adalah bagaimana membuat agar kehudayaan bisa
berfungsi mempersatukan masyarakat di tengah kondisi keragaman kebudayaan.
Proses pembentukan budaya dipengaruhi oleh hal-hal sebagai
berikut : (1) pendiri organisasi; (2) pemilik organisasi; (3) Sumber daya
manusia (4) lingkungan / luar organisasi; (4) orang yang berkepentingan dengan
organisasi (stake holder); dan (6) masyarakat sekitar. Sedangkan cara
melestarikan budaya antara lain adalah Seleksi, SDM, Struktur (perubahan), Peraturan. Karena budaya ini telah
berevolusi selama bertahun-tahun melalui sejumlah proses belajar yang telah
berakar, maka mungkin saja sulit untuk diubah.
DAFTAR PUSTAKA
1. Robbins
dan Judge. 2008. Perilaku Organisasi, Edisi Duabelas, Penerbit Salemba Empat:
Jakarta.
2. Koentjaraningrat.
1979 Pengantar Ilmu Antropologi. Penerbit Aksara Baru : Jakarta
3. Soerjono Soekatno. 1994 Sosiologi: Suatu Pengantar. PT. Raja Grafindo : Jakarta
5. http://mpikelasb.blogspot.co.id/2010/01/makalah-pengaruh-budaya-terhadap.html (di
akses tgl 21 Desember 2016 )
6.
http://jalutommy.blogspot.co.id/2014/01/makalah-budaya-dan-pembentukan-perilaku.html
( di akses tgl 19 desember 2016 )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar