Jumat, 05 Januari 2018

PROSES PEMBENTUKAN BUDAYA



    PROSES PEMBENTUKAN BUDAYA
(Diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Kepemimpinan)
Dosen Pengampu :  A. Said  M.Pd

















Oleh:
Wildtan Habibi
NIM : 2015.77.20.010

Progam Studi: Manajemen Pendidikan Islam
STAI “MA’HAD ‘ALY AL-HIKAM
MALANG
Januari 2017




BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Pada hakikatnya manusia tidak mungkin hidup tanpa keberadaan orang lain karena kodratnya sebagai mahluk sosial. Kehidupan bersama dengan orang lain tentu dilandasi oleh aturan-aturan tertentu, karena setiap orang tidak dapat berbuat semaunya sendiri. manusia cenderung ingin hidup bebas karena kodratya yang lain sebagai mahluk individu, sehingga manusia diciptakan dengan karakteristik tersendiri. Akan tetapi kalau keinginan tersebut dipaksakan akan berbenturan dengan keinginan dan kepentingan pihak lain dan menimbulkan pertentangan oleh karena itu untuk mencapai keteraturan dan kenyamanan hidup bersama dengan orang lain, maka dibuat suatu aturan-aturan yang disepakati bersama tentang apa yang boleh dilakukan, apa yang harus dilakukan, apa yang sebaiknya dilakukan, atau apa yang jelas-jelas merupakan larangan dalam kehidupan bersama.
Manusia menjadikan nilai sebagai landasan, alasan atau motivasi dalam segala tingkahlaku dan perbuatan. Nilai-nilai yang ditanamkan pada seseorang oleh lingkungannya akan membentuk cara ia memandang lingkungannya dan bersikap dalam hidup. Cara hidup orang perorangan bila kemudian menjadi cara hidup sekelompok masyarakat akan membentuk kebudayaan. Sehingga yang membentuk kebudayaan adalah tata nilai yang dianut seseorang. Bila tata nilai yang dianut berbeda sehingga berbeda pula pandangan hidupnya, sikap hidup, cita-cita, tingkahlaku atau perbuatan, maka akan beda pula kebudayaannya. Untuk itu agar kita lebih memahami maka disini akan dibahas tentang proses pembentukan budaya.

B.  Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian budaya ?
2.    Apa fungsi dan peran budaya ?
3.    Bagaimana proses pembentukan budaya ?


C.  Tujuan
1.    Untuk mengetahui pengertian budaya
2.    Untuk mengetahui fungsi dan peran budaya
3.    Untuk mengetahui proses pembentukan budaya


BAB II
PEMBAHASAN

1.    Pengertian Budaya
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.[1]
Budaya adalah system makna bersama yang dianut oleh semua anggota agar tercapai tujuan. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif.  Budaya  adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit termasuk sistem agama, politik, adat istiadat, bahasa, perkakas,  pakaian, bangunan dan karya seni. Bahasa, sebagai-mana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.  Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya yang mana budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri.

2.    Fungsi dan peran budaya
Kebudayaan  merupakan hal tak terpisahkan dari masyarakat. Di mana ada masyarakat, di situ ada kebudayaan. Kebudayaan merupakan penopang kelangsungan hidup masyarakat. Kebudayaan mempunyai fungsi tertentu dalam masyarakat. Fungsi tersebut bisa kita pahami berdasarkan sudut pandang teori sosiologi.
Menurut teori fungsional-struktural, kebudayaan berfungsi untuk memelihara seluruh proses dalam masyarakat. Pertama-tama, kebudayaan berfungsi mempersatukan masyarakat dan menciptakan stabilitas. Hal itu terwujud melalui kesediaan masyarakat untuk menerima nilai-nilai inti sebagai pedoman kehidupan bersama. Lebih lanjut, kebudayaan memungkinkan masyarakat memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya, baik itu kebutuhan fisik maupun non-fisik. Sebagaimana sudah dibahas di atas, kebudayaan terdiri atas empat wujud. Keempat wujud kebudayaan itu semuanya merupakan kebutuhan masyarakat.
1. Wujud pertama kebudayaan berupa benda-benda fisik, terutama berfungsi untuk memenuhi kebutuhan fisik masyarakat.   
         2. Wujud kedua kebudayaan berupa sistem sosial, terutama berfungsi untuk memenuhi kebutuhan untuk menata kehidupan bersama. 
3.Wujud ketiga kebudayaan berupa sistem budaya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan emosional-spiritual (makna hidup)
   4. Wujud keempat kebudayaan berupa nilai budaya. atau terutama berfungsi untukmemenuhi kebutuhan identitas diri atau kelompok masyarakat.

     Sementara itu, menurut sudut pandang teori konflik sosial, kebudayaan terutama berfungsi untuk meemelihara ketidaksamaan sosial. dengan kata lain, kebudayaan sesungguhnva berfungsi untuk memelihara dominasi kelompok tertentu dalam masyarakat terhadap kelompok lainnya. Adanya dominasi kelompok tersebut akan menimbulkan ketidakpuasan kelompok lain. Hal itu pada gilirannya akan mendorong timhulnya perubahan sosial
      Apabila dicermati, kedua sudut pandang tersebut memiliki kebenaran masing-masing. Karena itu. keduanya memiliki pandangan yang saling melengkapi dalam memahami fungsi kebudayaan. Atas dasar kedua pandangan tersebut. dapat disimpulkan bahwa kebudayaan setidaknya memiliki fungsi sebagai berikut.
a. Sebagai pembeda antara satu dengan yang lainnya
b. Sebagai bentuk identitas
c. Sebagai perekat
d. Sebagai kontroling
        Dari ketiga fungsi tersebut. fungsi kebudaayan untuk dapat ‘mempersatukan masyarakat’ umumnya makin problematis. Hal itu karena masyarakat sekarang cenderung merupakan masyarakat beragam budaya. Tak jarang yang terjadi. kebudayaan bukannva mempersatukan masyarakat, tetapi malah memecah belah masyarakat. Karena itu, tantangan masyarakat sekarang adalah bagaimana membuat agar kebudayaan bisa berfungsi mempersatukan masyarakat di tengah kondisi keragaman kebudayaan.


3.    Proses pembentukan budaya
Tinjauan Antropologis Terhadap Pembentukan Budaya
Tinjauan antropologis yang dimaksud adalah tinjauan dari aspek penciptaan budaya oleh manusia. Tinjauan ini dimaksudkan untuk mendapatkan keterangan sampai seberapa jauh aspek-aspek manusiawi yang mempengaruhi lahirnya kebudayaan, terutama pembinaan moral bangsa. Suatu ketentuan yang tidak dapat disangkal adalah bahwa manusia merupakan makhluk budaya, dalam arti dengan seluruh potensi yang dimiliki, ia mampu melahirkan cipta, rasa, dan karsa. Inilah yang paling menarik perhatian para pemikir, baik dari kalangan umum maupun dari kalangan Islam, sehingga banyak di antara mereka menghabiskan waktunya untuk melakukan penelitian-penelitian dalam bidang ini. Dengan behavioral science, mereka melakukan analisis psikologis terhadap tingkah laku manusia guna memperoleh kejelasan terhadap kerja cipta, rasa, dan karsa, melauli beberapa aspek antara lain: cognitive dan emosi.[2] Pada saat diciptakan, manusia telah dilengkapi dengan empat fitrah (dorongan) yang menjadi potensi bagi pengembangan budaya. Dorongan-dorongan itu ialah:
1. Dorongan Naluri (hidayah fitriyah). Sejak dilahirkan, manusia telah menampakkan gejala-gejala sebagai pertanda bahwa dia adalah makhluk berbudaya, antara lain terlihat pada saat lapar ataupun haus, ia mengeluarkan suara tangisan dan pada saat disusui ibunya, ia mampu menghisap air susu ibu tersebut tanpa ada yang mengajarinya.
2. Dorongan Indrawi (hidayah hissiyah). Di samping naluri, manusi juga diberi kemampuan menerima rangsangan dari luar seperti panas ataupun dingai, bunyi-bunyian, pemandangan yang indah, bau-bauan, danmanis ataupun asin dengan perantaraan panca inderanya yaitu: alat peraba, pendengar, pengelihat, pencium, dan perasa.[3] Dengan potensi itu manusia dapat menjaga kelangsungan hidupnya, melindungi dirinya dari bahaya yang mangancam, memenuhi kebutuhan minum, makan, bertempat tinggal, dan memenuhi kepuasan-kepuasan untuk dirinya.[4]
3. Dorongan Akal (hidayah 'aqliyah). Gejala-gejala lahir yang ditangkap oleh pancaindera kadang-kadang menyimpang dari realitas yang sebenarnya, seperti halnya jalan karena api yang sebenarnya sejajar, tetapi pada jarak tertentu terlihat bertemu di satu titik, dan tongkat yang sebenarnya lurus, apabila dicelupkan ke dalam air tampak membengkok. Penyimpangan seperti itu tentu harus dikontrol dengan kemampuan akal, agar gejala-gejala yang sebenarnya dapat diketahui. Dengan potensi berfikir daya khayalnya, manusia mampu melakukan apreseasi (apperception), dan menyalurkan apresiasinya itu melalui cipta, rasa, dan karsa. Dari kemampuan akal ini, manusia mampu membuat alat untuk memudahkan keperluan-keperluannya, dari yang sederhana sampai yang canggih, sehingga oleh orang Barat disebut dengan the tool making animal (makhluk pembuat alat). Makin tinggi daya kreasi manusia, makin canggih pula bentuk-bentuk budaya materialnya.
4. Dorongan Religi (hidayah diniyah). Karena daya pemikiran manusia tidak dapat menjangkau apa yang terdapat di balik alam maya pada, maka perlu disambung dengan bimbingan sang Pencipta alam semesta yang diturunkan melalui para rasul-Nya. Dengan bimbingan ini manusia dapat mengetahui apa yang semestinya dilakukan, sehingga budaya yang diciptakan dapat berguna baik bagi dirinya, makhluk sesamanya, ataupun makhluk-akhluk yang lain. Menurut sifatnya, manusia adalah makhluk berberagama, atau disebut dengan istilah homo-relegiosi. Dengan berpedoman pada agama, manusia dapat memperhalus budinya, sehingga ia bisa menjelaskan tugasnya sebagai Master of the World/ khalifahtullah di muka bumi ini.
Sedangkan proses terbentuknya budaya dalam organisasi yakni munculnya gagasan-gagasan atau jalan keluar yang kemudian tertanam dalam suatu budaya dalam organisasi bisa bermula dari mana pun, dari perorangan atau kelompok, dari tingkat bawah atau puncak. Taliziduhu Ndraha (1997) menginventarisir sumber-sumber pembentuk budaya organisasi, diantaranya : (1) pendiri organisasi; (2) pemilik organisasi; (3) Sumber daya manusia (4) lingkungan / luar organisasi; (4) orang yang berkepentingan dengan organisasi (stake holder); dan (6) masyarakat sekitar.
Pembentukan budaya tidak dapat dilakukan dalam waktu yang sekejap, namun memerlukan waktu dan bahkan biaya yang tidak sedikit untuk dapat menerima nilai-nilai baru dalam organisasi. Setelah mapan, budaya organisasi sering mengabadikan dirinya dalam sejumlah hal. Calon anggota kelompok mungkin akan disaring berdasarkan kesesuaian nilai dan perilakunya dengan budaya organisasi. Kepada anggota organisasi yang baru terpilih bisa diajarkan gaya kelompok secara eksplisit. Kisah-kisah atau legenda-legenda historis bisa diceritakan terus menerus untuk mengingatkan setiap orang tentang nilai-nilai kelompok dan apa yang dimaksudkan dengannya. Para manajer bisa secara eksplisit berusaha bertindak sesuai dengan contoh budaya dan gagasan budaya tersebut. Begitu juga, anggota senior bisa mengkomunikasikan nilai-nilai pokok mereka secara terus menerus dalam percakapan sehari-hari atau melalui ritual dan perayaan-perayaan khusus. Orang-orang yang berhasil mencapai gagasan-gagasan yang tertanam dalam budaya ini dapat terkenal dan dijadikan pahlawan. Proses alamiah dalam identifikasi diri dapat mendorong anggota muda untuk mengambil alih nilai dan gaya mentor mereka. Barangkali yang paling mendasar, orang yang mengikuti norma-norma budaya akan diberi imbalan (reward) sedangkan yang tidak, akan mendapat sanksi (punishment). Imbalan (reward) bisa berupa materi atau pun promosi jabatan dalam organisasi tertentu sedangkan untuk sanksi (punishment) tidak hanya diberikan berdasar pada aturan organisasi yang ada semata, namun juga bisa berbentuk sanksi sosial. Dalam arti, anggota tersebut menjadi isolated di lingkungan organisasinya.
 Dalam suatu organisasi sesungguhnya tidak ada budaya yang “baik” atau “buruk”, yang ada hanyalah budaya yang “cocok” atau “tidak cocok” . Jika dalam suatu organisasi memiliki budaya yang cocok, maka manajemennya lebih berfokus pada upaya pemeliharaan nilai-nilai- yang ada dan perubahan tidak perlu dilakukan. Namun jika terjadi kesalahan dalam memberikan asumsi dasar yang berdampak terhadap rendahnya kualitas kinerja, maka perubahan budaya mungkin diperlukan. Cara melestarikan budaya antara lain adalah Seleksi, SDM, Struktur (perubahan), Peraturan. Karena budaya ini telah berevolusi selama bertahun-tahun melalui sejumlah proses belajar yang telah berakar, maka mungkin saja sulit untuk diubah. Kebiasaan lama akan sulit dihilangkan.




BAB III
KESIMPULAN

Budaya adalah system makna bersama yang dianut oleh semua anggota agar tercapai tujuan. Budaya  juga merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit termasuk sistem agama, politik, adat istiadat, bahasa, perkakas,  pakaian, bangunan dan karya seni.
Fungsi budaya adalah Sebagai pembeda antara satu dengan yang lainnya, Sebagai bentuk identitas, Sebagai perekat, Sebagai kontroling. Karena masyarakat sekarang cenderung merupakan masyarakat beragam budaya. Tak jarang yang terjadi. kebudayaan bukannva mempersatukan masyarakat, tetapi malah memecah belah masyarakat. Karena itu, tantangan masyarakat sekarang adalah bagaimana membuat agar kehudayaan bisa berfungsi mempersatukan masyarakat di tengah kondisi keragaman kebudayaan.
Proses pembentukan budaya dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut : (1) pendiri organisasi; (2) pemilik organisasi; (3) Sumber daya manusia (4) lingkungan / luar organisasi; (4) orang yang berkepentingan dengan organisasi (stake holder); dan (6) masyarakat sekitar. Sedangkan cara melestarikan budaya antara lain adalah Seleksi, SDM, Struktur (perubahan), Peraturan. Karena budaya ini telah berevolusi selama bertahun-tahun melalui sejumlah proses belajar yang telah berakar, maka mungkin saja sulit untuk diubah.






DAFTAR PUSTAKA

1.      Robbins dan Judge. 2008. Perilaku Organisasi, Edisi Duabelas, Penerbit Salemba Empat: Jakarta.
2.      Koentjaraningrat. 1979 Pengantar Ilmu Antropologi. Penerbit Aksara Baru : Jakarta
3.      Soerjono Soekatno. 1994  Sosiologi: Suatu Pengantar.  PT. Raja Grafindo : Jakarta
4.      http://informasiana.com/fungsi-kebudayaan-dalam-masyarakat/ (di akses tgl 27 Desember 2016)



[1] Poerwadarmita, Kamus, hlm. 158.

[2] Soerjono Soekatno, Sosiologi: Suatu Pengantar (Jakarta: Raja Grafindo, 1994), hlm, 188-189.

[3] Ibid., hlm. 63.

[4] Koentjaraningrat, pengantar, hlm. 123-125.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar