REVISI
Membangun TQM
(Total Qiality Management)
(Diajukan untuk memenuhi tugas UAS Mata Kuliah
Sistem Penjaminan Mutu)
Dosen
Pengampu:Ahmad Said, M.Pd.I.
Oleh:
Syafi’i
NIM:
2015.77.20.011
Progam Studi:
Manajemen Pendidikan Islam
STAI “MA’HAD
ALY AL-HIKAM”
MALANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Banyak masalah mutu yang dihadapi
dalam dunia pendidikan, seperti mutu lulusan, mutu pengajaran, bimbingan dan
latihan dari guru, serta mutu profesionalisme dam kinerja guru. Mutu-mutu
tersebut terkait dengan mutu manajerial para pimpinan pendidikan, keterbatasan
dana, sarana, dan prasarana, fasilitas pendidikan, media, sumber belajar, alat
dan bahan latihan, iklim sekolah, lingkungan pendidikan, serta dukungan dari
pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan tersebut berujung pada rendahnya
mutu lulusan.
Mutu lulusan yang rendah dapat menimbulkan berbagai masalah, seperti
lulusan tidak dapat melanjutkan studi, tidak dapat menyelesaikan studinya pada
jenjang yang lebih tinggi, tidak dapat bekerja/tidak diterima didunia kerja,
diterima bekerja, tetapi tidak berprestasi, tidak dapat mengikuti perkembangan
masyarakat dan tidak produktif. Lulusan tidak produktif akan menjadi beban
masyarakat, menambah biaya kehidupan dan kesejahteraan masyarakat, serta
memungkinkan menjadi warga yang tersisih dari masyarakat.
Banyaknya masalah yang diakibatkan oleh lulusan pendidikan yang tidak
bermutu, upaya-upaya atau program untuk meningkatkan mutu pendidikan merupakan
hal yang amat penting. Sehubungan dengan persoalan tersebut, pemerintah telah
mngeluarkan berbagai peraturan perundang – undangan yang mendorong
peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Undang – undang Sisdiknas nomor
20 Tahun 2003 mengaskan bahwa pengendalian dan evaluasi mutu pendidikan harus
dilakukan, baik terhadap program maupun terhadap institusi pendidikan secara
berkelanjutan. Begitu pula dalam peraturan pemerintah Nomor 19 Tahun 2005
dijelaskan bahwa penetapan Standar Nasional Pendidikan (SNP) untuk mewujudkan
pendidikan nasional yang bermutu.
Lembaga pendidikan Islam sebagai wadah proses penanaman nilai-nilai
pendidikan Islam sekaligus pemegang amanat pendidikan Nasional pun bermasalah
dengan mutu, banyaknya lulusan lembaga pendidikan Islam yang tidak berprestasi
dan kurang tertanamnya nilai-nilai Islami menjadi bukti mutu lembaga pendidikan
Islam belum sesuai harapan, dalam upaya perbaikan memerlukan Total Quality
Manajemen (TQM) dalam rangka menjamin lulusannya sesuai dengan tujuan visi dan
misi lembaga pendidikan Islam.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian TQM?
2.
Apa saja prinsip-prinsip TQM?
3.
Bagaimana cara membangun TQM ?
C.
Tujuan
1.
Dapat memahami pengertian dari TQM.
2.
Dapat memahami apa saja prinsip-prinsip dalam TQM?
3.
Dapat memahami bagaimana cara membangun TQM?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian TQM.
Dalam hal ini,
para ahli dalam mendefinisikan TQM terdapat beberapa perbedaan diantaranya
yaitu:
1)
Tobin (1990)
mendefinisikan TQM sebagai usaha terintegrasi total untuk mendapatkan manfaat
kompetitif dengan cara secara terus-menerus memperbaiki setiap fase budaya
organisasional.
2)
Witcher (1990) menekankan pada pentingnya
aspek-aspek TQM menggunakan penjelasan berikut: Total: Menandakan bahwa setiap
orang dalam perusahaan harus dilibatkan (bahkan mungkin pelanggan dan para
pemasok), Quality: Mengindikasikan bahwa keperluan-keperluan pelanggan
sepenuhnya dipenuhi, dan Management: Menjelaskan bahwa eksekutif senior pun
harus komit secara penuh.
4) Feigenbaum
(1991) memberikan definisi yang lebih lengkap dari TQM: “sistem kualitas total
dijelaskan sebagai salah satu yang merangkum keseluruhan siklus kepuasan
pelanggan dari interpretasi keperluannya terutama pada tahap pemesanan, melalui
pasokan produk atau jasa dari harga ekonominya dan pada persepsinya dari produk
setelah dia telah menggunakannya sepanjang perioda waktu”.
Total Quality Management (TQM) berasal dari
kata "Total" yang berarti keseluruhan atau terpadu, "Quality"
yang berarti kualitas, dan "Management" yang telah disamakan
dengan manajemen dalam Bahasa Indonesia yang berarti pengelolaan.
Dalam pengertian mengenai TQM, penekanan utama
adalah pada kualitas yang didefinisikan dengan mengerjakan segala sesuatu
dengan baik sejak awal dengan tujuan untuk memenuhi kepuasan pelanggan.
TQM juga dapat di artikan sebagai strategi manajemen yang ditujukan untuk menanamkan kesadaran kualitas pada semua proses dalam organisasi. Sesuai dengan definisi dari ISO, TQM adalah "suatu pendekatan manajemen untuk suatu organisasi yang
terpusat pada kualitas, berdasarkan partisipasi semua anggotanya dan bertujuan
untuk kesuksesan jangka panjang melalui kepuasan pelanggan serta memberi
keuntungan untuk semua anggota dalam organisasi serta masyarakat[1].
B.
Prinsip-prinsip
TQM.
Ada beberapa tokoh yang mengemukakan
prinsip-prinsip TQM. Salah satunya adalah Bill Crash, 1995, mengatakan bahwa
program TQM harus mempunyai empat prinsip bila ingin sukses dalam penerapannya.
Keempat prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
a) Program TQM
harus didasarkan pada kesadaran akan kualitas dan berorientasi pada kualitas
dalam semua kegiatannya sepanjang program, termasuk dalam setiap proses dan
produk.
b)
Program TQM harus mempunyai sifat kemanusiaan yang kuat dalam memberlakukan
karyawan, mengikutsertakannya, dan memberinya inspirasi.
c)
Progran TQM harus didasarkan pada pendekatan desentralisasi yang memberikan
wewenang disemua tingkat, terutama di garis depan, sehingga antusiasme
keterlibatan dan tujuan bersama menjadi kenyataan.
d)
Program TQM harus diterapkan secara menyeluruh sehingga semua prinsip,
kebijaksanaan, dan kebiasaan mencapai setiap sudut dan celah organisasi.
Lebih lanjut
Bill Creech, 1996, menyatakan bahwa prinsip-prinsip dalam sistem TQM harus
dibangun atas dasar 5 pilar sistem yaitu; Produk, Proses, Organisasi,
Kepemimpinan, dan Komitmen.
Lima Pilar TQM :
1. Produk
2. Proses
3. Organisasi
4. Pemimpin
5. Komitmen
Produk adalah
titik pusat untuk tujuan dan pencapaian organisasi. Mutu dalam produk tidak
mungkin ada tanpa mutu di dalam proses. Mutu di dalam proses tidak mungkin ada
tanpa organisasi yang tepat. Organisasi yang tepat tidak ada artinya tanpa
pemimpin yang memadai. Komitmen yang kuat dari bawah ke atas merupakan pilar
pendukung bagi semua yang lain. Setiap pilar tergantung pada keempat pilar yang
lain, dan kalau salah satu lemah dengan sendirinya yang lain juga lemah.
Pendapat lain
dikemukakan oleh Hensler dan Brunnell (dalam Scheuing dan Christopher, 1993:
165-166) yang dikutip oleh Drs. M.N. Nasution, M.S.c., A.P.U. dalam bukkunya
yang berjudul Manjemen Mutu Terpadu, mengatakan bahwa TQM merupakan suatu
konsep yang berupaya, melaksanakan sistem manajemen kualitas kelas dunia. Untuk
itu, diperlukan perubahan besar dalam budaya dan sistem nilai suatu organisasi ada
empat prinsip utama dalam TQM, yaitu :
1. Kepuasan
pelanggan.
2. Respek
terhadap setiap orang.
3. Manajemen
berdasarkan fakta.
4. Perbaikan berkesinambungan[2].
C.
Membangun TQM.
Dalam
membangun atau memulai TQM ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
a.
Membangun
Budaya Organisasi.
1)
Meciptakan
suasana belajar yang nyaman.
Menciptakan suasana belajar yang nyaman bisa
dengan berbagai cara , diantaranya: a). Mendekorasi ruangan kelas. b).
Memanfaatkan berbagai media. c). Mengajar sesuai dengan metode yang disukai
oleh peserta didik.
2)
Melengkapi
dengan sarana dan prasarana yang baik.
Bagian sarpras selalu mengecek bila ada
peralatan yang sudah tidak layak dipakai atau sudah rusak untuk segera
diperbaiki atau diganti dengan yang baru, bila ada peralatan yang bersifat
elektronik yang lupa dimatikan setelah dipakai supaya segera dimatikan.
3)
Membuat
peraturan sekolah disertai dengan hukuman bagi pelanggar.
Peraturan yang dbuat harus sesuai dengan
nilai-nilai yang telah atau akan diterapakan oleh pihak sekolah dan sifatnya
rasional dan juga pembentukanya harus sesuai dengan hasil rapat para angota
sekolah. Bila peraturan sudah perlu adanya sebuah hukuman bagi pelangar, karena
sebuah peraturan kurang efektif tanpa adanya sebuah hukuman.
4)
Kondisi social.
5)
Nilai.
Dibagi 2 yaitu tampak dan tidak tampak.
6)
Forum
Dibagi 2 yaitu internal (siswa, guru dan
karyawan) dan eksternal (wali siswa, Masyarakat dan pemerintah).
b.
Konsep/metode
TQM.
1)
Metode W. Edwards Deming
Metode-metode yang diperkenalkan TQM antara lain berasal dari W. Edwards Deming dengan menawarkan konsep yang dikenal sebagai Deming Cycle atau Shewhart Cycle. Metode ini bicara mengenai hubungan kerjasama semua lini departemen (riset, desain, produksi, dan pemasaran) dalam memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan atas produk yang dihasilkan. Menurutnya perlu ada tes terlebih dulu atas sebuah informasi sebelum diambil sebuah keputusan. Ada empat langkah dalam Deming Cycle: Plan-Do-Check-Act (PDCA) atau dikenal juga sebagai Plan-Do-Study-Act (PDSA).
Metode lain yang dikenal dari Deming adalah Deming four teen point yang diantaranya berisi konsistensi dalam perbaikan produk, pelembagaan kepemimpinan dan training, respek pada kebutuhan dan pemberdayaan karyawan, dan kerjasama antar departemen. Deming seven deadly, merupakan ringkasan dari pandangan Deming terhadap faktor-faktor yang dapat merintangi transformasi menuju bisnis berkualitas. Poin yang bisa diambil antara lain adalah kurangnya ketetapan tujuan dalam memberikan kualitas, mementingkan keuntungan dan kepentingan jangka pendek disertai kurangnya perencanaan jangka panjang, pemborosan biaya kesehatan dan garansi, dan evaluasi serta pelatihan karyawan yang tidak tepat.
Metode-metode yang diperkenalkan TQM antara lain berasal dari W. Edwards Deming dengan menawarkan konsep yang dikenal sebagai Deming Cycle atau Shewhart Cycle. Metode ini bicara mengenai hubungan kerjasama semua lini departemen (riset, desain, produksi, dan pemasaran) dalam memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan atas produk yang dihasilkan. Menurutnya perlu ada tes terlebih dulu atas sebuah informasi sebelum diambil sebuah keputusan. Ada empat langkah dalam Deming Cycle: Plan-Do-Check-Act (PDCA) atau dikenal juga sebagai Plan-Do-Study-Act (PDSA).
Metode lain yang dikenal dari Deming adalah Deming four teen point yang diantaranya berisi konsistensi dalam perbaikan produk, pelembagaan kepemimpinan dan training, respek pada kebutuhan dan pemberdayaan karyawan, dan kerjasama antar departemen. Deming seven deadly, merupakan ringkasan dari pandangan Deming terhadap faktor-faktor yang dapat merintangi transformasi menuju bisnis berkualitas. Poin yang bisa diambil antara lain adalah kurangnya ketetapan tujuan dalam memberikan kualitas, mementingkan keuntungan dan kepentingan jangka pendek disertai kurangnya perencanaan jangka panjang, pemborosan biaya kesehatan dan garansi, dan evaluasi serta pelatihan karyawan yang tidak tepat.
2)
Joseph M.Juran.
Juran yang memiliki 2 gelar kesarjanaan (teknik
dan hukum) ini merupakan pendiri dari Juran Institute,Inc. Di Wilton,
Connecticut. Institute ini bergerak dalam bidang pelatihan, penelitian, dan
konsultasi manajemen kualitas. Juran mendefinisikan kualitas sebagai cocok/
sesuai untuk digunakan (fitness for use), yang mengandung pengertian
bahwa suatu produk atau jasa harus dapat memenuhi apa yang diharapkan oleh para
pemakainya. Pengertian cocok untuk digunakan ini mengandung 5 dimensi utama,
yaitu kualitas desain, kualitas kesesuaian, ketersediaan, keamanan, dan field
use.
Juran pernah mendapat penghargaan dari Kaisar
Jepang berupa medali Order of the Sacred Treasure atas usahanya dalam
mengembangkan kualitas diu Jepang dan membina pesahabatan antara Jepang dan
Amerika Serikat. Kontribusi Juran yang paling terkenal antara lain Jurans Three basic
Steps to Progress, Jurans Ten Steps to Quality Improvement, The pareto
Principle, dan The Juran Trilogy. Selain itu Juran juga mengembangkan konsep
Managing Business Process Quality, yang merupakan suatu teknik untuk
melaksanakan penyempurnaan kualitas secara fungsional silang (corss-functional).
Jurans Three Steps to progress
Menurut Juran, tiga langkah dasar ini
merupakan langkah yang harus diambil perusahaan bila mereka ingin mencapai
kualitas tingkat dunia. Juran juga yakin bahwa ada titik diminishing return
dalam hubungan antara kualitas dan daya saing. Ketiga langkah tersebut teridiri
dari:
1. Mencapai perbaikan terstruktur atas dasar kesinambung-an yang
dikombinasikan dengan dedikasi dan keadaan yang mendesak.
2. Mengadakan program pelatihan secara luas.
3. Membentuk komitmen dan kepemimpinan pada tingkat manajemen yang lebih
tinggi.
Jurans Ten Steps to Quality Improvement
Sepuluh langkah untuk memperbaiki kualitas
menurut Juran meliputi:
a.
Membentuk kesadaran terhadap kebutuhan akan
perbaikan dan peluang untuk melakukan perbaikan.
b.
Menetapkan tujuan perbaikan.
c.
Mengorganisasikan untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
d.
Menyediakan pelatihan.
e.
Melaksanakan proyek-proyek yang ditujukan
untuk pemecahan masalah.
f. Melaporkan perkembangan.
g. Memberikan penghargaan.
h. Mengkomunikasi hasil-hasil.
i. Menyimpan dan mempertahankan hasil yang dicapai.
j. Memelihara momentum dengan melakukan perbaikan dalam system regular
perusahaan.
3) Philip B. Crosby.
Crosby terkenal dengan anjuran manajemen zero
defect dan pencegahan, yang menentang tingkat kualitas yang dapat diterima secara
statistik (aceptable quality level). Ia juga dikenal dengan Quality
Vaccine dan Crosby Foruteen Steps to Quality Improvement. Pandangan-pandangan
Crosby dirangkumkan dalam ringkasan yang ia sebut sebagai Dalil-dalil manajemen
Kualitas. Dalil-dalil in dikemukakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pokok
berikut:
1.
Apa yang dimaksud dengan kualitas?
2.
Sistem seperti apa yang dibutuhkan untuk
menghasilkan kualitas?
3.
Standar kinerja bagaimana yang harus digunakan?
4.
Sistem pengukuran seperti apa yan dibutuhkan?
Dalil pertama: Definisi kualitas adalah sama
dengan persyaratan Dulu kualitas diterjemahkan sebagai tingkat kebagus-an atau
kebaikan (gooddness). Definis ini memiliki kelemahan, yaitu tidak
menerangkan secara spesifik baik/bagus itu bagaimana. Misalnya Shandy
menginginkan sepeda motor yang bagus. Ini sangatlah subjektif. Bagus itu
seperti apa. Apakah kriterianya? Bagaimana kecepatannya? Modelnya yang sportif?
Hemat BBM? Suku cadang yang mudah didapat? Yang tidak cepat rusak? Semuanya ini
tidak jelas?
Definisi kualitas menurut Crosby adalah memenuhi
atau sama dengan persyaratannya (conformance to requirements). Meleset
sedikit saja dari persyaratannya, maka semua produk atau jasa dikatakan tidak
berkualitas. Persyaratan itu dapat berubah sesuai dengan keinginan pelanggan,
kebutuhan organisasi, pemasok dan sumber, pemerintah, teknologi, serta pasar
atau persaingan.
Dalil kedua: sistem kualitas adalah pencegahan:
Pada masa lalu sistem kualitas adalah penilaian (appraisal). Misalnya
dipabrik TV, pada akhir proses dinyatakan apakah TV yang dihasilkan tergolong
buruk atau bagus. Penilaian akhir ini hanya menyatakan bahwa apabila baik maka
akan diserahkan kepada distributor, sedangkan bila buruk akan disingkirkan.
Penilaian seperti ini tidak menyelesaiakan masalah, karena yang buruk akan
selalu ada. Mengapa tidak dilakuak pencegahan sejak awal sehingga outputnya
dijamin bagus serta hemat biaya dan waktu. Dalam hal ini dikenal the law of
tens. Maksudnya, bila kita menemukan suatu kesalahan di awal proses kedua,
maka biayanya menjdi 10 rupiah. Diketemukan di proses berikutnya lagi biayanya
menjadi 100 rupiah. Jadi sistem kualitas menurut Crosby merupakan pencegahan.
Dalam suatu proses pasti ada input dan output. Di
dalam proses kerja internal sendiri ada 4 kendali input dimana proses
pencegahan dapat dilakukan, yaitu:
1.
Fasilitas dan perlengkapan.
2.
Pelatihan dan pengetahuan.
3.
Prosedur, pedoman/ manual operasi standar, dan
pedo-man standar kualitas.
4.
Standar kinerja/ prestasi.
Dalil ketiga: kerusakan nol (zero defect)
merupakan standar kinerja yang harus digunakan. Konsep yang berlaku di masa
lalu, yaitu konsep yang mendekati (close enough), misalnya efisiensi
mesin mendekati 95 persen. Tetapi coba dihitung berapa besarnya inefisiensi 5
persen dikalikan penjualan. Bila diukur dalam rupiah maka baru disadari besar
sekali nilainya. Orang sering terjebak dengan nilai presentase, sehingga Crosby
mengajukan konsep kerusakan nol yang menurutnya dapat tercapai bila perusahaan
melakukan sesuatu secara bener semenjak pertama kali dan setiap kali.
Dalil keempat: ukuran kualitas adalah price of
non conformance.
Kualitas harus merupakan sesuatu yang dapat
diukur. Biaya untuk menghasilkan kualitas juga harus terukur. Menurut Crosby,
biaya mutu merupakan penjumlahan antara Price of non Conformance dan price
of Conformance.
Price of non Conformance(PONC) adalah biaya yang dikeluarkan bila
tugas dilakukan karena melakukan kesalahan. Contohnya ketika terjadi salah kirim kertas ke
Jakarta ke Jogjakarta. Pelanggan meminta kertas CD tetapi dikirim kertas HVS.
Misalnya tidak ada yang mau menerima kertas HVS, maka biaya angkut
Jakarta-Jogjakarta, sewa gudang, biaya administrasi, biaya lain serta
kemungkinan kerugian penjualan ditanggung oleh produsen. Dengan konsep zero
defect, diharapkan PONC ini tidak ada sehingga dapat menurunkan biaya kualitas.
Price of Conformance (POC) adalah biaya yang dikeluarkan bila tugas
dilakukan secara benar semenjak pertama kalinya. Untuk keperluan ini dibutuhkan
konfirmasi persyaratan dari para pelanggan. Sebelum pengiriman, DO-nya
diperiksa apakah benar yang dikirim kertas CD? Truknya juga diperiksa, apa
betul yang dimuat kertas CD? Ekspedisi dicek, apa betul truk menuju ke
Jogjakarta? Dari semua langkah berapa biayanya. Kesemuanya merupakan POC. Dalam
praktik sehari-hari POC mencakup biaya pelatihan dan pendidikan kualitas,
inspeksi dan kalibrasi[3].
4)
Metode kaizen.
Menurutnya
langkah-langkah dalam pengembangan TQM diatara lain: 1.Kepuasan pelanggan.
2.Tidak muluk-muluk dalam perencanaan. 3.Pengelolaan SDM. 4.Perbaikan
Administrasi dll.
a.
SDM yang kompeten
Setiap
organisasi memiliki kompetensi yang berbeda, karena belum adanya persyaratan
standar untuk menempati suatu posisi, serta penetuan pelatihan bagi sumber daya
manusia belum sistematis maka aplikasi kompetensi diprioritaskan berdasarkan
fungsi sumber daya manusia di organisasi. Menurut Mitrani, Dalziel, Fitt
(1992); Spencer & Spencer (1993), dari pemikiran para ahli dapat
diidentifikasikan beberapa pokok pikiran tentang kualitas yang perlu dimiliki
orang pada eksekutif (executives), manajer (managers), dan
karyawan (employees) dalam penelitian ini yang dibahas adalah mengenai
kompetensi tingkat personil. Kompetensi karyawan diperlukan untuk
mengidentifikasi pekerjaan yang sesuai dengan prestasi yang diharapkan.
Kompetensi tingkat karyawan meliputi[4] :
a.
Flexibility,
yaitu kemampuan untuk melihat perubahan sebagai suatu kesempatan yang
menggembirakan ketimbang sebagai ancaman.
b.
Information seeking, motivation, and ability to learn, yaitu kemampuan mencari kesempatan belajar tentang keahlian
teknis dan interpersonal.
c.
Achievment motivation, yaitu kemampuan berinovasi sebagai peningkatan kualitas,
produktivitas.
d.
Work motivation under time pressure, yaitu kemampuan menahan stres dalam organisasi, dan komitmen dalam
menyelesaikan pekerjan.
e.
Collaborativeness,
yaitu kemampuan pegawai untuk bekerja secara kooperatif di dalam kelompok.
f.
Customer service orientation, yaitu kemampuan melayani konsumen, mengambil inisiatif dalam
mengatasi masalah yang dihadapi konsumen
b.
Memperbaiki Administrasi.
Menurut asal katanya, administrasi berasal dari
bahasa latin ad+ministrare yang berarti melayani, membantu, dan
memenuhi. Dari perkataan itu terbentuk kata benda administration dan
kata sifat administrativus yang kemudian masuk ke dalam bahasa inggris administrasion.
Perkataan itu selanjutnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi
administrasi[5]. Dengan demikian dapat dipahami bahwa administrasi adalah kegiatan
yang memberikan pelayanan, bantuan dan pengarahan kepada sesuatu untuk mencapai
suatu tujuan.
Berdasarkan definisi yang telah dikemukakan
sebelumnya, maka dapat kita pahami karakteristik administrasi pendidikan adalah
sebagai berikut:
a.
Administrasi
pendidikan meliputi semua kegiatan yang berkenaan dengan tujuan memperbaiki
proses pendidikan.
b.
Administrasi
pendidikan merupakan usaha kolektif dan kerjasama sekelompok orang di dalam
lembaga pendidikan berdasarkan ketentuan-ketentuan dan batasan-batasan
kemampuan tertentu.
c.
Administrasi
pendidikan merupakan proses kemanusiaan yang bertujuan agar terpenuhi keinginan
dan kebutuhan manusia dalam rangka memperbaiki kehidupan manusia melalui
perubahan manusia yang bersangkutan.
d.
Administrasi
pendidikan adalah proses sosial dengan arti kata bahwa administrasi pendidikan
tersebut harus memberikan manfaat bagi masyarakat.
e.
Admnistrasi
pendidikan adalah proses pendidikan yang berusaha untuk mengembangkan
pekerja-pekerja dan orang-orang yang berkaitan dengan organisasi.
f.
Administrasi
pendidikan juga merupakan usaha-usaha yang teratur, dan usaha-usaha yang tepat
dalam melaksanakan koordinasi pada suatu organisasi.
g.
Administrasi
pendidikan merupakan kerja kepemimpinan yang bijaksana, dan dapat menciptakan
iklim yang kondusif, meliputi material, psikologis, spiritual dan sosial.
h.
Administrasi
pendidikan adalah proses pendidikan yang bertujuan atau jalan untuk mencapai
tujuan[6].
i.
Pemberian
SOP/Job Desc. Yang bertujuan untuk melihat lebih detail setiap langkah yang
harus dikerjakan di dalam setipa pekerjaan atau jabatan.
Jika 4 unsur
tadi sudah diterapkan dalam sebuah lembaga pendidikan, maka secara otomatis
system mutu sekolah akan menjadi lebih baik dan unggul, yang mana nanti setelah
system mutu sudah terbentuk maka itu akan menjadi asset bagi sebuah lembaga pendidikan
tersebut.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam pengertian mengenai TQM, penekanan utama
adalah pada kualitas yang didefinisikan dengan mengerjakan segala sesuatu
dengan baik sejak awal dengan tujuan untuk memenuhi kepuasan pelanggan,
Adapun
prinsip-prinsip dari TQM diantara lain, yaitu: 1.Program TQM harus didasarkan
kualitas. 2. Program TQM harus mempunyai sifat kemanusiaan yang kuat. 3.Progran
TQM harus didasarkan pada pendekatan desentralisasi. 4.Program TQM harus diterapkan secara
menyeluruh.
Cara membangun
TQM yaitu dengan 4 tahapan yaitu: 1. Pembentukan budaya. 2.Menerapkan metode
TQM. 3.Memilih SDM yang berkompeten. 4.Perbaikan Administrasi.
Daftar
Pustaka
Hadari Nawawi, 1981. Administrasi Pendidikan, Jakarta:
Gunung Agung.
http://intanmutiah24.blogspot.co.id/2016/10/makalah-total-quality-management.html di akses pada tgl 28- 3- 2017.
http://www.widyasari-press.com/index.php?option=com_content&view=article&id=588:kualitas-versi-deming-juran-dan-crosby&catid=77:vol-16-no-2-mei-2014-seri-iii diakses tgl 3 juni 2017.
Manullang. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia. BPFE
Yogyakarta.
[1] http://intanmutiah24.blogspot.co.id/2016/10/makalah-total-quality-management.html di
akses pada tgl 28-3-2017.
[2] http://intanmutiah24.blogspot.co.id/2016/10/makalah-total-quality-management.html di
akses pada tgl 28- 3- 2017.
[5]
Hadari Nawawi, Administrasi Pendidikan, (Jakarta: Gunung Agung, 1981),
hlm. 5
[6]
Ibid., hal. 9.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar