Jumat, 05 Januari 2018

makalah Membangun TQM (Total Qiality Management)



REVISI
Membangun TQM (Total Qiality Management)
 (Diajukan untuk memenuhi tugas UAS Mata Kuliah Sistem Penjaminan Mutu)
Dosen Pengampu:Ahmad Said, M.Pd.I.












Oleh: Syafi’i
NIM: 2015.77.20.011
Progam Studi: Manajemen Pendidikan Islam
STAI “MA’HAD ALY AL-HIKAM
MALANG
2017

BAB I
PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang
Banyak masalah mutu yang dihadapi dalam dunia pendidikan, seperti mutu lulusan, mutu pengajaran, bimbingan dan latihan dari guru, serta mutu profesionalisme dam kinerja guru. Mutu-mutu tersebut terkait dengan mutu manajerial para pimpinan pendidikan, keterbatasan dana, sarana, dan prasarana, fasilitas pendidikan, media, sumber belajar, alat dan bahan latihan, iklim sekolah, lingkungan pendidikan, serta dukungan dari pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan tersebut berujung pada rendahnya mutu lulusan.
Mutu lulusan yang rendah dapat menimbulkan berbagai masalah, seperti lulusan tidak dapat melanjutkan studi, tidak dapat menyelesaikan studinya pada jenjang yang lebih tinggi, tidak dapat bekerja/tidak diterima didunia kerja, diterima bekerja, tetapi tidak berprestasi, tidak dapat mengikuti perkembangan masyarakat dan tidak produktif. Lulusan tidak produktif akan menjadi beban masyarakat, menambah biaya kehidupan dan kesejahteraan masyarakat, serta memungkinkan menjadi warga yang tersisih dari masyarakat.
Banyaknya masalah yang diakibatkan oleh lulusan pendidikan yang tidak bermutu, upaya-upaya atau program untuk meningkatkan mutu pendidikan merupakan hal yang amat penting. Sehubungan dengan persoalan tersebut, pemerintah telah mngeluarkan berbagai  peraturan perundang – undangan yang mendorong peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Undang – undang Sisdiknas nomor 20 Tahun 2003 mengaskan bahwa pengendalian dan evaluasi mutu pendidikan harus dilakukan, baik terhadap program maupun terhadap institusi pendidikan secara berkelanjutan. Begitu pula dalam peraturan pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 dijelaskan bahwa penetapan Standar Nasional Pendidikan (SNP) untuk mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.
Lembaga pendidikan Islam sebagai wadah proses penanaman nilai-nilai pendidikan Islam sekaligus pemegang amanat pendidikan Nasional pun bermasalah dengan mutu, banyaknya lulusan lembaga pendidikan Islam yang tidak berprestasi dan kurang tertanamnya nilai-nilai Islami menjadi bukti mutu lembaga pendidikan Islam belum sesuai harapan, dalam upaya perbaikan memerlukan Total Quality Manajemen (TQM) dalam rangka menjamin lulusannya sesuai dengan tujuan visi dan misi lembaga pendidikan Islam.

B.                 Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian TQM?
2.      Apa saja prinsip-prinsip TQM?
3.      Bagaimana cara membangun TQM ?

C.                 Tujuan
1.      Dapat memahami pengertian dari TQM.
2.      Dapat memahami apa saja prinsip-prinsip dalam TQM?
3.      Dapat memahami bagaimana cara membangun TQM?

BAB II
PEMBAHASAN
A.                Pengertian TQM.
Dalam hal ini, para ahli dalam mendefinisikan TQM terdapat beberapa perbedaan diantaranya yaitu:
1)                      Tobin (1990) mendefinisikan TQM sebagai usaha terintegrasi total untuk mendapatkan manfaat kompetitif dengan cara secara terus-menerus memperbaiki setiap fase budaya organisasional.
2)                   Witcher (1990) menekankan pada pentingnya aspek-aspek TQM menggunakan penjelasan berikut: Total: Menandakan bahwa setiap orang dalam perusahaan harus dilibatkan (bahkan mungkin pelanggan dan para pemasok), Quality: Mengindikasikan bahwa keperluan-keperluan pelanggan sepenuhnya dipenuhi, dan Management: Menjelaskan bahwa eksekutif senior pun harus komit secara penuh.
4)      Feigenbaum (1991) memberikan definisi yang lebih lengkap dari TQM: “sistem kualitas total dijelaskan sebagai salah satu yang merangkum keseluruhan siklus kepuasan pelanggan dari interpretasi keperluannya terutama pada tahap pemesanan, melalui pasokan produk atau jasa dari harga ekonominya dan pada persepsinya dari produk setelah dia telah menggunakannya sepanjang perioda waktu”.
Total Quality Management (TQM) berasal dari kata "Total" yang berarti keseluruhan atau terpadu, "Quality" yang berarti kualitas, dan "Management" yang telah disamakan dengan manajemen dalam Bahasa Indonesia yang berarti pengelolaan.
Dalam pengertian mengenai TQM, penekanan utama adalah pada kualitas yang didefinisikan dengan mengerjakan segala sesuatu dengan baik sejak awal dengan tujuan untuk memenuhi kepuasan pelanggan.
TQM juga dapat di artikan sebagai strategi manajemen yang ditujukan untuk menanamkan kesadaran kualitas pada semua proses dalam organisasi. Sesuai dengan definisi dari ISO, TQM adalah "suatu pendekatan manajemen untuk suatu organisasi yang terpusat pada kualitas, berdasarkan partisipasi semua anggotanya dan bertujuan untuk kesuksesan jangka panjang melalui kepuasan pelanggan serta memberi keuntungan untuk semua anggota dalam organisasi serta masyarakat[1].
B.                Prinsip-prinsip TQM.
Ada beberapa tokoh yang mengemukakan prinsip-prinsip TQM. Salah satunya adalah Bill Crash, 1995, mengatakan bahwa program TQM harus mempunyai empat prinsip bila ingin sukses dalam penerapannya. Keempat prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
a)      Program TQM harus didasarkan pada kesadaran akan kualitas dan berorientasi pada kualitas dalam semua kegiatannya sepanjang program, termasuk dalam setiap proses dan produk.
b)      Program TQM harus mempunyai sifat kemanusiaan yang kuat dalam memberlakukan karyawan, mengikutsertakannya, dan memberinya inspirasi.
c)      Progran TQM harus didasarkan pada pendekatan desentralisasi yang memberikan wewenang disemua tingkat, terutama di garis depan, sehingga antusiasme keterlibatan dan tujuan bersama menjadi kenyataan.
d)     Program TQM harus diterapkan secara menyeluruh sehingga semua prinsip, kebijaksanaan, dan kebiasaan mencapai setiap sudut dan celah organisasi.
Lebih lanjut Bill Creech, 1996, menyatakan bahwa prinsip-prinsip dalam sistem TQM harus dibangun atas dasar 5 pilar sistem yaitu; Produk, Proses, Organisasi, Kepemimpinan, dan Komitmen.
Lima Pilar TQM :
1.      Produk
2.      Proses
3.      Organisasi
4.      Pemimpin
5.      Komitmen
Produk adalah titik pusat untuk tujuan dan pencapaian organisasi. Mutu dalam produk tidak mungkin ada tanpa mutu di dalam proses. Mutu di dalam proses tidak mungkin ada tanpa organisasi yang tepat. Organisasi yang tepat tidak ada artinya tanpa pemimpin yang memadai. Komitmen yang kuat dari bawah ke atas merupakan pilar pendukung bagi semua yang lain. Setiap pilar tergantung pada keempat pilar yang lain, dan kalau salah satu lemah dengan sendirinya yang lain juga lemah.
Pendapat lain dikemukakan oleh Hensler dan Brunnell (dalam Scheuing dan Christopher, 1993: 165-166) yang dikutip oleh Drs. M.N. Nasution, M.S.c., A.P.U. dalam bukkunya yang berjudul Manjemen Mutu Terpadu, mengatakan bahwa TQM merupakan suatu konsep yang berupaya, melaksanakan sistem manajemen kualitas kelas dunia. Untuk itu, diperlukan perubahan besar dalam budaya dan sistem nilai suatu organisasi ada empat prinsip utama dalam TQM, yaitu :
1.      Kepuasan pelanggan.
2.      Respek terhadap setiap orang.
3.      Manajemen berdasarkan fakta.
4.      Perbaikan berkesinambungan[2].
C.        Membangun TQM.
                   Dalam membangun atau memulai TQM ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
a.    Membangun Budaya Organisasi.
1)   Meciptakan suasana belajar yang nyaman.
Menciptakan suasana belajar yang nyaman bisa dengan berbagai cara , diantaranya: a). Mendekorasi ruangan kelas. b). Memanfaatkan berbagai media. c). Mengajar sesuai dengan metode yang disukai oleh peserta didik.
2)   Melengkapi dengan sarana dan prasarana yang baik.
Bagian sarpras selalu mengecek bila ada peralatan yang sudah tidak layak dipakai atau sudah rusak untuk segera diperbaiki atau diganti dengan yang baru, bila ada peralatan yang bersifat elektronik yang lupa dimatikan setelah dipakai supaya segera dimatikan.
3)   Membuat peraturan sekolah disertai dengan hukuman bagi pelanggar.
Peraturan yang dbuat harus sesuai dengan nilai-nilai yang telah atau akan diterapakan oleh pihak sekolah dan sifatnya rasional dan juga pembentukanya harus sesuai dengan hasil rapat para angota sekolah. Bila peraturan sudah perlu adanya sebuah hukuman bagi pelangar, karena sebuah peraturan kurang efektif tanpa adanya sebuah hukuman.
4)   Kondisi social.
5)   Nilai.
Dibagi 2 yaitu tampak dan tidak tampak.
6)   Forum
Dibagi 2 yaitu internal (siswa, guru dan karyawan) dan eksternal (wali siswa, Masyarakat dan pemerintah).
b.    Konsep/metode TQM.
1)         Metode W. Edwards Deming  
Metode-metode yang diperkenalkan TQM antara lain berasal dari W. Edwards Deming dengan menawarkan konsep yang dikenal sebagai Deming Cycle atau Shewhart Cycle. Metode ini bicara mengenai  hubungan kerjasama semua lini departemen (riset, desain, produksi, dan pemasaran) dalam memenuhi  kebutuhan dan kepuasan pelanggan atas produk yang dihasilkan.  Menurutnya perlu ada tes terlebih dulu atas sebuah informasi sebelum diambil sebuah keputusan. Ada empat langkah dalam Deming Cycle: Plan-Do-Check-Act (PDCA) atau dikenal juga sebagai Plan-Do-Study-Act (PDSA).
Metode lain yang dikenal dari Deming adalah Deming four teen point yang diantaranya berisi konsistensi dalam perbaikan produk, pelembagaan kepemimpinan dan training, respek pada kebutuhan dan pemberdayaan karyawan, dan kerjasama antar departemen. Deming seven deadly, merupakan ringkasan dari pandangan Deming terhadap faktor-faktor yang dapat merintangi transformasi menuju bisnis berkualitas. Poin yang bisa diambil antara lain adalah kurangnya ketetapan tujuan dalam memberikan kualitas, mementingkan keuntungan dan kepentingan jangka pendek disertai kurangnya perencanaan jangka panjang, pemborosan biaya kesehatan dan garansi, dan evaluasi serta pelatihan karyawan yang tidak tepat.
2)        Joseph M.Juran.
Juran yang memiliki 2 gelar kesarjanaan (teknik dan hukum) ini merupakan pendiri dari Juran Institute,Inc. Di Wilton, Connecticut. Institute ini bergerak dalam bidang pelatihan, penelitian, dan konsultasi manajemen kualitas. Juran mendefinisikan kualitas sebagai cocok/ sesuai untuk digunakan (fitness for use), yang mengandung pengertian bahwa suatu produk atau jasa harus dapat memenuhi apa yang diharapkan oleh para pemakainya. Pengertian cocok untuk digunakan ini mengandung 5 dimensi utama, yaitu kualitas desain, kualitas kesesuaian, ketersediaan, keamanan, dan field use.
Juran pernah mendapat penghargaan dari Kaisar Jepang berupa medali Order of the Sacred Treasure atas usahanya dalam mengembangkan kualitas diu Jepang dan membina pesahabatan antara Jepang dan Amerika Serikat. Kontribusi Juran yang paling terkenal antara lain Jurans Three basic Steps to Progress, Jurans Ten Steps to Quality Improvement, The pareto Principle, dan The Juran Trilogy. Selain itu Juran juga mengembangkan konsep Managing Business Process Quality, yang merupakan suatu teknik untuk melaksanakan penyempurnaan kualitas secara fungsional silang (corss-functional).
Jurans Three Steps to progress
Menurut Juran, tiga langkah dasar ini merupakan langkah yang harus diambil perusahaan bila mereka ingin mencapai kualitas tingkat dunia. Juran juga yakin bahwa ada titik diminishing return dalam hubungan antara kualitas dan daya saing. Ketiga langkah tersebut teridiri dari:
1. Mencapai perbaikan terstruktur atas dasar kesinambung-an yang dikombinasikan dengan dedikasi dan keadaan yang mendesak.
2. Mengadakan program pelatihan secara luas.
3. Membentuk komitmen dan kepemimpinan pada tingkat manajemen yang lebih tinggi.
Jurans Ten Steps to Quality Improvement
Sepuluh langkah untuk memperbaiki kualitas menurut Juran meliputi:
a.   Membentuk kesadaran terhadap kebutuhan akan perbaikan dan peluang untuk melakukan perbaikan.
b.   Menetapkan tujuan perbaikan.
c.   Mengorganisasikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
d.   Menyediakan pelatihan.
e.   Melaksanakan proyek-proyek yang ditujukan untuk pemecahan masalah.
f.    Melaporkan perkembangan.
g.   Memberikan penghargaan.
h.   Mengkomunikasi hasil-hasil.
i.    Menyimpan dan mempertahankan hasil yang dicapai.
j.    Memelihara momentum dengan melakukan perbaikan dalam system regular perusahaan.
3)     Philip B. Crosby.
Crosby terkenal dengan anjuran manajemen zero defect dan pencegahan, yang menentang tingkat kualitas yang dapat diterima secara statistik (aceptable quality level). Ia juga dikenal dengan Quality Vaccine dan Crosby Foruteen Steps to Quality Improvement. Pandangan-pandangan Crosby dirangkumkan dalam ringkasan yang ia sebut sebagai Dalil-dalil manajemen Kualitas. Dalil-dalil in dikemukakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pokok berikut:
1.    Apa yang dimaksud dengan kualitas?
2.    Sistem seperti apa yang dibutuhkan untuk menghasilkan kualitas?
3.    Standar kinerja bagaimana yang harus digunakan?
4.    Sistem pengukuran seperti apa yan dibutuhkan?
Dalil pertama: Definisi kualitas adalah sama dengan persyaratan Dulu kualitas diterjemahkan sebagai tingkat kebagus-an atau kebaikan (gooddness). Definis ini memiliki kelemahan, yaitu tidak menerangkan secara spesifik baik/bagus itu bagaimana. Misalnya Shandy menginginkan sepeda motor yang bagus. Ini sangatlah subjektif. Bagus itu seperti apa. Apakah kriterianya? Bagaimana kecepatannya? Modelnya yang sportif? Hemat BBM? Suku cadang yang mudah didapat? Yang tidak cepat rusak? Semuanya ini tidak jelas?
Definisi kualitas menurut Crosby adalah memenuhi atau sama dengan persyaratannya (conformance to requirements). Meleset sedikit saja dari persyaratannya, maka semua produk atau jasa dikatakan tidak berkualitas. Persyaratan itu dapat berubah sesuai dengan keinginan pelanggan, kebutuhan organisasi, pemasok dan sumber, pemerintah, teknologi, serta pasar atau persaingan.
Dalil kedua: sistem kualitas adalah pencegahan: Pada masa lalu sistem kualitas adalah penilaian (appraisal). Misalnya dipabrik TV, pada akhir proses dinyatakan apakah TV yang dihasilkan tergolong buruk atau bagus. Penilaian akhir ini hanya menyatakan bahwa apabila baik maka akan diserahkan kepada distributor, sedangkan bila buruk akan disingkirkan. Penilaian seperti ini tidak menyelesaiakan masalah, karena yang buruk akan selalu ada. Mengapa tidak dilakuak pencegahan sejak awal sehingga outputnya dijamin bagus serta hemat biaya dan waktu. Dalam hal ini dikenal the law of tens. Maksudnya, bila kita menemukan suatu kesalahan di awal proses kedua, maka biayanya menjdi 10 rupiah. Diketemukan di proses berikutnya lagi biayanya menjadi 100 rupiah. Jadi sistem kualitas menurut Crosby merupakan pencegahan.
Dalam suatu proses pasti ada input dan output. Di dalam proses kerja internal sendiri ada 4 kendali input dimana proses pencegahan dapat dilakukan, yaitu:
1.                   Fasilitas dan perlengkapan.
2.                   Pelatihan dan pengetahuan.
3.                   Prosedur, pedoman/ manual operasi standar, dan pedo-man standar kualitas.
4.                   Standar kinerja/ prestasi.
Dalil ketiga: kerusakan nol (zero defect) merupakan standar kinerja yang harus digunakan. Konsep yang berlaku di masa lalu, yaitu konsep yang mendekati (close enough), misalnya efisiensi mesin mendekati 95 persen. Tetapi coba dihitung berapa besarnya inefisiensi 5 persen dikalikan penjualan. Bila diukur dalam rupiah maka baru disadari besar sekali nilainya. Orang sering terjebak dengan nilai presentase, sehingga Crosby mengajukan konsep kerusakan nol yang menurutnya dapat tercapai bila perusahaan melakukan sesuatu secara bener semenjak pertama kali dan setiap kali.
Dalil keempat: ukuran kualitas adalah price of non conformance.
Kualitas harus merupakan sesuatu yang dapat diukur. Biaya untuk menghasilkan kualitas juga harus terukur. Menurut Crosby, biaya mutu merupakan penjumlahan antara Price of non Conformance dan price of Conformance.
Price of non Conformance(PONC) adalah biaya yang dikeluarkan bila tugas dilakukan karena melakukan kesalahan. Contohnya ketika terjadi salah kirim kertas ke Jakarta ke Jogjakarta. Pelanggan meminta kertas CD tetapi dikirim kertas HVS. Misalnya tidak ada yang mau menerima kertas HVS, maka biaya angkut Jakarta-Jogjakarta, sewa gudang, biaya administrasi, biaya lain serta kemungkinan kerugian penjualan ditanggung oleh produsen. Dengan konsep zero defect, diharapkan PONC ini tidak ada sehingga dapat menurunkan biaya kualitas.
Price of Conformance (POC) adalah biaya yang dikeluarkan bila tugas dilakukan secara benar semenjak pertama kalinya. Untuk keperluan ini dibutuhkan konfirmasi persyaratan dari para pelanggan. Sebelum pengiriman, DO-nya diperiksa apakah benar yang dikirim kertas CD? Truknya juga diperiksa, apa betul yang dimuat kertas CD? Ekspedisi dicek, apa betul truk menuju ke Jogjakarta? Dari semua langkah berapa biayanya. Kesemuanya merupakan POC. Dalam praktik sehari-hari POC mencakup biaya pelatihan dan pendidikan kualitas, inspeksi dan kalibrasi[3].
4)     Metode kaizen.
Menurutnya langkah-langkah dalam pengembangan TQM diatara lain: 1.Kepuasan pelanggan. 2.Tidak muluk-muluk dalam perencanaan. 3.Pengelolaan SDM. 4.Perbaikan Administrasi dll.
a.     SDM yang kompeten
Setiap organisasi memiliki kompetensi yang berbeda, karena belum adanya persyaratan standar untuk menempati suatu posisi, serta penetuan pelatihan bagi sumber daya manusia belum sistematis maka aplikasi kompetensi diprioritaskan berdasarkan fungsi sumber daya manusia di organisasi. Menurut Mitrani, Dalziel, Fitt (1992); Spencer & Spencer (1993), dari pemikiran para ahli dapat diidentifikasikan beberapa pokok pikiran tentang kualitas yang perlu dimiliki orang pada eksekutif (executives), manajer (managers), dan karyawan (employees) dalam penelitian ini yang dibahas adalah mengenai kompetensi tingkat personil. Kompetensi karyawan diperlukan untuk mengidentifikasi pekerjaan yang sesuai dengan prestasi yang diharapkan. Kompetensi tingkat karyawan meliputi[4] :
a.       Flexibility, yaitu kemampuan untuk melihat perubahan sebagai suatu kesempatan yang menggembirakan ketimbang sebagai ancaman.
b.      Information seeking, motivation, and ability to learn, yaitu kemampuan mencari kesempatan belajar tentang keahlian teknis dan interpersonal.
c.       Achievment motivation, yaitu kemampuan berinovasi sebagai peningkatan kualitas, produktivitas.
d.      Work motivation under time pressure, yaitu kemampuan menahan stres dalam organisasi, dan komitmen dalam menyelesaikan pekerjan.
e.        Collaborativeness, yaitu kemampuan pegawai untuk bekerja secara kooperatif di dalam kelompok.
f.       Customer service orientation, yaitu kemampuan melayani konsumen, mengambil inisiatif dalam mengatasi masalah yang dihadapi konsumen
b.      Memperbaiki Administrasi.
Menurut asal katanya, administrasi berasal dari bahasa latin ad+ministrare yang berarti melayani, membantu, dan memenuhi. Dari perkataan itu terbentuk kata benda administration dan kata sifat administrativus yang kemudian masuk ke dalam bahasa inggris administrasion. Perkataan itu selanjutnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi administrasi[5]. Dengan demikian dapat dipahami bahwa administrasi adalah kegiatan yang memberikan pelayanan, bantuan dan pengarahan kepada sesuatu untuk mencapai suatu tujuan.
Berdasarkan definisi yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat kita pahami karakteristik administrasi pendidikan adalah sebagai berikut:
a.    Administrasi pendidikan meliputi semua kegiatan yang berkenaan dengan tujuan memperbaiki proses pendidikan.
b.    Administrasi pendidikan merupakan usaha kolektif dan kerjasama sekelompok orang di dalam lembaga pendidikan berdasarkan ketentuan-ketentuan dan batasan-batasan kemampuan tertentu.
c.    Administrasi pendidikan merupakan proses kemanusiaan yang bertujuan agar terpenuhi keinginan dan kebutuhan manusia dalam rangka memperbaiki kehidupan manusia melalui perubahan manusia yang bersangkutan.
d.    Administrasi pendidikan adalah proses sosial dengan arti kata bahwa administrasi pendidikan tersebut harus memberikan manfaat bagi masyarakat.
e.    Admnistrasi pendidikan adalah proses pendidikan yang berusaha untuk mengembangkan pekerja-pekerja dan orang-orang yang berkaitan dengan organisasi.
f.     Administrasi pendidikan juga merupakan usaha-usaha yang teratur, dan usaha-usaha yang tepat dalam melaksanakan koordinasi pada suatu organisasi.
g.    Administrasi pendidikan merupakan kerja kepemimpinan yang bijaksana, dan dapat menciptakan iklim yang kondusif, meliputi material, psikologis, spiritual dan sosial.
h.    Administrasi pendidikan adalah proses pendidikan yang bertujuan atau jalan untuk mencapai tujuan[6].
i.      Pemberian SOP/Job Desc. Yang bertujuan untuk melihat lebih detail setiap langkah yang harus dikerjakan di dalam setipa pekerjaan atau jabatan.
Jika 4 unsur tadi sudah diterapkan dalam sebuah lembaga pendidikan, maka secara otomatis system mutu sekolah akan menjadi lebih baik dan unggul, yang mana nanti setelah system mutu sudah terbentuk maka itu akan menjadi asset bagi sebuah lembaga pendidikan tersebut.



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam pengertian mengenai TQM, penekanan utama adalah pada kualitas yang didefinisikan dengan mengerjakan segala sesuatu dengan baik sejak awal dengan tujuan untuk memenuhi kepuasan pelanggan,
Adapun prinsip-prinsip dari TQM diantara lain, yaitu: 1.Program TQM harus didasarkan kualitas. 2. Program TQM harus mempunyai sifat kemanusiaan yang kuat. 3.Progran TQM harus didasarkan pada pendekatan desentralisasi.    4.Program TQM harus diterapkan secara menyeluruh.
Cara membangun TQM yaitu dengan 4 tahapan yaitu: 1. Pembentukan budaya. 2.Menerapkan metode TQM. 3.Memilih SDM yang berkompeten. 4.Perbaikan Administrasi.
Daftar Pustaka

Hadari Nawawi, 1981. Administrasi Pendidikan, Jakarta: Gunung Agung.


Manullang. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia. BPFE Yogyakarta.







[4] Manullang. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia. BPFE Yogyakarta. hal.
[5] Hadari Nawawi, Administrasi Pendidikan, (Jakarta: Gunung Agung, 1981), hlm. 5
[6] Ibid., hal. 9.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar